[1/2] TWIN?

11570346f261d713b5522770fa5e54e9

.

.

© 2014 ©

ChubbyVampire present

Title: Twin? || Cast: My original character and their boyfriends || Genre: Friendship//Family || Length: Twoshoot || Rating: T

“Aku siapa? Kau siapa? Mereka siapa? Siapa sebenarnya kita?”

.

.

THIS IS MY OWN FANFICTION. STORY AND OC(s) ARE MINE. BASHERS AND SILENT READERS ARE NOT ALLOWED. BUT YOUR COMMENTS ARE VERY WELCOME. THANKISS.

.

.

Jangan berharap terlalu banyak dari fiksi saya yang satu ini. Karena didalamnya mengecewakan dan isinya tidak seperti apa yang kalian bayangkan. Terlalu mudah ditebak, terlalu membosankan. Terlalu banyak omong kosong tidak berguna, dan juga berbelit-belit tidak cepat sampai pada tujuan. Untuk dua terakhir, dengan sengaja saya buat seperti itu. Jangan terkecoh cover juga, itu tipuan, aku malas ngedit.

Mohon jangan dimasukkan kedalam hati. Anggap saja fiktif belaka karena ini memang hanyalah sebuah tulisan fiksi. Saya hanya menyalurkan kebosanan yang melanda dengan mencurahkan itu semua dalam tulisan. Dan juga maaf bila merasa tersindir atau semacamnya. Saya juga menumpahkan emosi yang selama beberapa hari ini saya bendung dalam tulisan fiksi ini. Klise.

.

.

CHAPTER 1

AUTHOR POV

“Pernah berpikir bahwa kita kembar?” Pertanyaan yang terlontar dari lisan Ahra sontak membuat Ji Ahn tersedak. Ia memuncratkan jus jeruk yang diteguknya. Menepuk dadanya berkali-kali sampai ia tidak lagi terbatuk. Ia mengangkat wajahnya kemudian menatap horror Ahra.

“Apa katamu? Kembar? Jangan bercanda, Ahra. Itu hanya ada di drama yang akan kita mainkan.”

“Aku juga tidak yakin dengan apa yang kuucapkan barusan. Tapi, entahlah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku sepanjang malam. Apakah kita kembar? Apakah aku dan Lee Ji Ahn adalah saudara kembar yang terpisah? Apakah aku kakak dan dia adiknya? Ah, aku pusing memikirkannya.”

Ji Ahn tertawa mendengar keluhan Ahra, teman dekatnya di tempat kursus menari. “Jangan kau pikirkan kalau begitu. Mungkin itu hanya karena kau terlalu mendalami peran.”

“Tidak bisa Ji Ahn… Aku selalu memikirkannya. That problem stucks in my mind! Sulit sekali menghilangkan pikiran itu.”

Ahra kembali mengeluh membuat Ji Ahn bosan mendengarnya. Ia menyodorkan jus jeruk yang sedari tadi ia teguk. “Minumlah, tenangkan pikiranmu. Jangan jadikan hal bodoh seperti ini sebagai masalah besar yang akan mengganggu pertunjukan kita. Kurang dari dua minggu lagi, Ahra-ya. Kita harus semangat! Fokus!”

Ji Ahn tengah menegakkan tubuh demi menyemangati diri sendiri dan juga kawab baiknya. Namun itu tidak lagi terjadi kala melihat Ahra yang masih tercenung. Tangan Ji Ahn yang terkepal perlahan menggenggam erat jemari Ahra. Gadis berkacamata dengan pipi tembam itu tersenyum kecil sembari menusuk pipi tirus Ahra beberapa kali menggunakan tangannya yang lain. Sempat membuat gadis disampingnya mengeluh pelan.

“Ayolah tersenyum. Kenapa kau jadi seperti ini? Bukannya Park Ahra seorang yang tidak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele?”

Ahra menepis tangan tangan Ji Ahn di pipinya kemudian berucap pelan, “Apa sih, aku sedang malas,”

“Malas untuk menari? Kau bilang menari adalah bagian dari hidupmu? Kau bilang menari sudah menjadi hobimu sejak kecil. Kenapa sekarang seperti ini? Menari sudah membantu mempertemukanmu dengan banyak hal, Ahra. Mempertemukanmu dengan Miss Jung yang sangat menyayangi kita, mempertemukanmu dengan idolamu, senior Mijoo, mempertemukanmu denganku, dan juga mempertemukanmu dengan kekasihmu. Ingat itu.”

Dengan segera Ahra menyembunyikan wajahnya dibalik lengan saat mendengar ucapan terakhir Ji Ahn. Junhong, Choi Junhong, kekasihnya. Dan Lee Ji Ahn melihatnya, ia paham dengan maksud gerak tubuh Ahra.

“Aaa kau malu, kan? Iya kan? Mengaku saja,”

“Ji Ahn kau apa-apaan sih, minggir sana.”

“Park Ahra… Hahaha,”

“Lee Ji Ahn diam,”

“Hei kembar! Waktu istirahat sudah habis, kenapa kalian masih bermain disini? Ayo cepat latihan. Time is money girls,” Jessica Jung, atau yang akrab disapa Miss Jung, guru pembimbing Ahra dan Ji Ahn. Setelah menyadarkan kedua gadis itu, guru cantik dengan tubuh bak boneka barbie itu pun melenggang masuk kedalam ruang latihan.

“Miss Jung memanggil kita, ayo latihan!”

*          *          *

Musik berhenti. Dan selanjutnya…

PROK PROK PROK.

Suara tepukan tangan dan juga sorak sorailah yang terdengar didalam ruangan berukuran enam kali delapan meter itu. Dua gadis yang berada di bagian tengah depan menghela napas secara bersamaan. Peluh memang bercucuran melewati paras cantik mereka, namun senyuman kebanggan tidak lepas dari bibir masing-masing.

“Kalian hebat! Kalian benar-benar hebat! Aku menyayangi kalian berdua gadis kembarku,”

Dan kali ini tubuh mereka sudah berada dalam dekapan hangat Miss Jung. Guru cantik itu tersenyum senang saat merasakan tubuh kedua anak didiknya yang perlahan mulai membalas pelukan yang ia berikan.

Miss, kau selalu memanggil kita anak kembar by the way,” Ini suara Ahra.

“Benar Miss, padahal kita bukanlah sepasang anak kembar seperti apa katamu,” Dan kali ini suara Ji Ahn.

Jessica Jung tersenyum lagi. Ia pun melepaskan pelukannya kemudian mengacak rambut Ji Ahn dan Ahra bersamaan. “Karena kalian memang anak kembarku dalam drama musikal kali ini. Bukankah kalian memerankan sepasang peri kembar? Dan aku guru kalian, aku pelatih kalian, aku ibu kalian disini. Lantas apa salahnya aku memanggil kalian anak kembarku?”

Pernyataan yang diucapkan dengan nada pertanyaan oleh Miss Jung membuat kedua anak didik dalam rangkulannya saling bertatapan. Mereka mengerutkan dahi bersamaan, dan lagi-lagi menghela napas bersamaan.

“Baiklah Miss…“

Mereka melepaskan diri dari rangkulan sang guru.

“…kami mengerti,”

Tidak hanya mereka berdua, kali ini seluruh anak didik Jessica Jung mulai mengemasi barang-barang mereka. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, itu tandanya waktu untuk latihan telah berakhir.

“Latihan untuk kali ini cukup guys, kalian hebat! Semangat untuk pertunjukan kita! Kalian boleh pulang sekarang,”

Dan benar saja, Miss Jung pun menutup pertemuan kali ini saat dilihatnya sang suami tengah bersandar disamping pintu. Semua murid berhamburan keluar sebelum awalnya berpamitan pada sang guru. Begitu juga Ahra dan Ji Ahn. Kedua gadis itu berjalan bersamaan keluar dari ruang latihan.

Saat sampai di halaman, nampak dihadapan mereka seorang lelaki jangkung dengan kulit putih susu yang kini mengenakan kaus panjang berwarna biru tua. Lelaki itu berdiri disamping motor sport putih miliknya. Saat manik matanya menatap dua orang gadis yang berjalan beriringan, senyuman kecilnya merekah. Ia tersenyum manis menatap salah satu diantara mereka berdua, dia yang memakai jaket merah muda, dia yang menjepit rambut ikal hitam pekatnya, dia yang berjalan disamping Ji Ahn, dia Park Ahra.

“Ahra-ya,” Lelaki itu menyapa dengan riangnya. Ahra tersenyum, begitu juga dengan Ji Ahn.

Ji Ahn berjalan mendekat kemudian membungkukkan badannya. “Selamat malam Junghong sunbae,”

“Ji Ahn? Selamat malam, bagaimana latihan hari ini?”

“Yaaa begitulah, hehe. Aku pulang dulu ya, sudah malam. Ayah pasti sudah menungguku.”

Ahra mengerutkan dahinya mendengar penuturan Ji Ahn. Dia menahan tangan Ji Ahn saat gadis itu hendak melangkah pergi. “Kau pulang sendiri? Dimana Myungsoo Oppa? Kau akan pulang naik apa? Ini sudah malam, Lee Ji Ahn! Tidak baik bagi gadis sepertimu pulang sendirian ditengah malam seperti ini.”

Hening sejenak.

Namun tiba-tiba suara gelak tawa Ji Ahn mulai terdengar. Ahra kesal memang. Bagaimana bisa kekhawatirannya hanya dibalas dengan gelak tawa menyebalkan seperti ini?

“Hey, aku akan baik-baik saja. Toh aku hanya akan berjalan sampai persimpangan jalan didepan. Kantor ayahku tidak jauh dari sini. Selepasnya aku akan pulang dengan ayah. Kau jangan terlalu berlebihan seperti itu, Ahra-ya. Aigoo,”

“Kenapa kau tidak bercerita padaku, aish kau ini—“

“Ehem,”

Suara batukan yang disengaja terdengar. Kedua gadis itupun menoleh dengan takut-takut ke arah sumber suara,

“…masih ada aku disini hey,” Dan tersenyum canggung.

“Hehe maafkan kami sunbae. Kalau begitu aku duluan, hati-hati dijalan Junhong sunbae, Ahra. Selamat malam,” Ji Ahn mulai melangkahkan kakinya dari hadapan Junhong dan Ahra sebelum awalnya ia membungkuk hormat. Langkah kakinya yang terasa ringan membuatnya kini sudah berjarak cukup jauh dengan sepasang kekasih yang sedari tadi masih menatap kepergiannya.

“Park Ahra,”

Suara Junhong membuat Ahra sadar dari lamunannya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum menjawab dengan nada terkejut. “Ya?”

“Ck, kau melamun. Ada masalah? Atau ada hubungannya dengan Ji Ahn? Kulihat sedari tadi kau memperhatikan gerak-gerik gadis itu,”

“Hah? Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat Ji Ahn, ada yang aneh dari gadis itu.”

“Oh ya, apa?”

“Tidak, dia hanya selalu minum jus jeruk serta menikmati seporsi kentang goreng sepanjang istirahat. Ya hanya itu, padahal kan masih banyak makanan lain yang rasanya lebih nikmat dibandingkan keduanya. Apa dia tidak bosan?” Dalihnya. Ahra berdecak dalam hati, alasan konyol apa ini—batinnya.

“Ya mungkin itu sudah menjadi makanan dan minuman favoritnya. Sudahlah jangan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi orang.” Dan Ahra mengangguk. “Jadi, mau kemana kita sekarang? Jalan-jalan, makan, atau langsung pulang?”

“Bisakah langsung pulang saja, Oppa? Aku mengantuk,”

Junhong tersenyum sembari mengacak rambut Ahra. “Baiklah, ayo naik,”

*          *          *

“Ibu, memasak apa?”

Sang ibu yang sedari tadi tengah berkutat didepan kompor menoleh sekilas. Dibelakangnya kini nampak Ahra yang baru saja terjaga dari tidurnya. Dengan rambut acak-acakan dan masih berpiyama lengkap, gadis itu berjalan mendekat kemudian berdiri tepat disamping ibunya.

“Sup tahu. Astaga Park Ahra, ini pukul berapa? Kenapa kau baru bangun?” Ibunya berdecak pelan melihat penampilan anak gadisnya kali ini. Sudah pukul delapan pagi dan anaknya baru bangun tidur. Mau jadi apa.

“Hehe aku lelah sekali bu. Tahu kan aku berlatih keras demi pertunjukan akhir bulan ini. Aku akan menampilkan yang terbaik, aku berjanji akan membuat ibu bangga kepadaku.”

Ibu yang mendengarnya tersenyum skiptis. Mengangkat tangannya kemudian membelai lembut rambut sang anak. “Baiklah ibu akan pegang janjimu. Tapi ingat, kau harus tetap menjaga kesehatanmu. Jangan sampai kau sakit hanya karena kelelahan saat berlatih. Ibu tidak ingin mendengar hal seperti itu untuk kedepannya. Paham?”

Dan Ahra yang masih menguap pun mengangguk. Membuat sang ibu melayangkan jitakan kecil di kepala sang anak. “Aww, astaga iya ibu aku mengerti. Aku akan menjaga kesehatanku. Ibu tenang saja tidak perlu khawatir.”

“Bagaimana ibu tidak khawatir kalau bahkan kau sering telat makan. Astaga Park Ahra…” Mendengar keluhan sang ibu, Ahra hanya menyeringai kaku. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal kemudian berlari menjauhi sang ibu.

“Ibu aku akan mandi, daahh,”

“Park Ahra! Hey,”

*          *          *

“Ayah,” Ji Ahn baru berani membuka suara ketika sang ayah baru saja menelan sesuap sarapannya.

Ayahnya menoleh, “Apa?”

Ji Ahn terdiam kaku. Ia tidak tahun harus memulai darimana untuk mengatakan semuanya, untuk menjelaskan semuanya terhadap sang ayah. Ia ragu, ia bimbang, ia takut sang ayah tidak memberinya restu. Karena semuanya akan sia-sia jika tidak ada restu dari orangtua.

“Lee Ji Ahn, ada apa? Ayah menunggumu,”

Ji Ahn tersadar dari lamunannya. Tangannya yang sedari tadi mengepal erat lepas begitu saja. “Ahh maafkan aku. Ayah…tahu kan pertunjukan drama musikal di pusat kota akhir bulan ini?”

Ayahnya tidak merespon. Beliau hanya mempertahankan wajah datarnya, membuat Ji Ahn murung seketika. Ia kembali menunduk dan meremas rok selutut yang ia kenakan.

“A—ayah…”

“Ayah tidak menyetujui kau bergabung dalam acara itu. Tugasmu saat ini hanya belajar untuk kuliahmu.”

Lee Ji Ahn tercekat. Lidahnya serasa kelu untuk membalas ucapan sang ayah.

“Ta—tapi ayah, a—aku…”

“Tidak ada sanggahan Lee Ji Ahn! Ayah tidak akan pernah menyetujuimu bergabung dengan organisasi tidak penting dan tidak bermanfaat seperti itu!”

*          *          *

Park Ahra melihatnya. Sore ini, disaat semua orang sibuk berkonsentrasi untuk berlatih, Ahra melihat kawannya itu termenung sendiri. Gadis berkacamata itu lebih memilih untuk menjauhi teman-temannya, termasuk dirinya. Tidak biasanya. Karena biasanya Ji Ahn lah yang menjadi moodbooster bagi mereka semua, Ji Ahn lah yang hobi meramaikan suasana. Tapi kali ini terbalik. Lee Ji Ahn nampak menjadi seseorang yang anti-sosial. Miss Jung sempat beberapa kali menegurnya, namun gadis itu selalu berucap maaf karena tidak berkonsentrasi. Dan saat Ahra tanyakan, dia selalu menjawab bahwa tidak ada yang salah dari dirinya. Dia tidak apa-apa.

Mulut bisa berbohong, namun mata tidak, bukan? Dan Ahra paham ada yang sedang disembunyikan oleh kawannya yang satu itu. Namun Ahra hanya diam, ia lebih baik menunggu sampai Ji Ahn benar-benar mau mencurahkan isi hatiya kepadanya, tanpa harus memaksa gadis itu untuk bercerita. Bukannya itu lebih baik?

Dan ini saatnya.

Disana Ji Ahn menceritakan semuanya pada Ahra. Dimulai dari masalah keluarga bahwa ayahnya berkata ingin menikah dengan orang yang sama sekali tidak Ji Ahn sukai, ayahnya yang membenci seni, ayahnya yang membenci tari, dan ayahnya yang melarang anak semata wayangnya itu untuk ikut bergabung dengan tim drama musikal.

Ahra yang mendengarnya hanya terdiam. Ia tidak tahu harus memberikan saran apa. Ia bukan siapa-siapa Ji Ahn. Ia dan Ji Ahn hanyalah murid kesayangan Miss Jung, ia dan Ji Ahn hanya bertemu dan berteman sejak dua tahun yang lalu. Ia hanyalah sebatas teman akrab di tempat kursus menari, entahlah, tapi menurut perkiraannya ia masih juga belum pantas disebut dengan sahabat walaupun ia selalu ada disaat Ji Ahn senang atau sedih begitu pula sebaliknya. Ia bukan sanak saudaranya, bukan, sama sekali bukan.

Dan malam itu pada akhirnya Ji Ahn hanya menangis dalam rengkuhan lengan Ahra. Tanpa siapapun sadari, perlahan airmata mulai mengalir dengan derasnya melewati pipi tirus gadis dengan rambut ikal itu. Tiada seorang pun yang tahu, bahkan mungkin Ji Ahn sekalipun.

Hanya atap ruang latihan itulah yang menjadi saksi bisu dari kejadian ini.

*          *          *

Myungsoo dengan perlahan menggenggam telapak tangan Ji Ahn. Ia tersenyum, menampakkan mata sipitnya yang mulai menghilang. tapi kali ini Ji Ahn tidak merespon apa-apa, ia hanya diam sembari menatap kedua tangannya yang digenggam erat oleh kekasihnya.

“Ayolah tersenyum. Apa lagi sekarang? Apa ayahmu masih memaksakan kehendak untuk menikahi wanita itu? Dan kau masih saja menolaknya?”

Tepat, pikir Ji Ahn. Tapi gadis itu hanya menggeleng, bukan seperti apa yang Myungsoo bayangkan sebelumnya.

“Apa lagi? Kau kembali bertengkar dengan ayahmu? Kau ada masalah dengan teman kampus? Teman kursusmu? Atau ada masalah denganku?” Myungsoo menggoyangkan beberapa kali genggaman tangan pada Ji Ahn. Berharap gadisnya mau berbicara walau hanya sepatah kata. Namun nampaknya tidak ada hasil. “Ayolah bicara Lee Ji Ahn… Aku lebih suka mendengarkan celotehan panjang lebar kekasihku dibandingkan harus melihatmu diam seperti ini.”

“Ji Ahn-ah…”

“Lee Ji Ahn…”

Oppa,” Senyuman Myungsoo kali ini merekah mendengar Ji Ahn yang menyebut panggilannya. Lelaki itu semakin erat menggenggam telapak tangan Ji Ahn. Ia mendekatkan wajahnya kemudian menampakkan wajah serius.

“Ya, sayang?”

“A—aku… Aku… A—yah…”

“Ada apa dengannya? Berceritalah padaku, mungkin ini akan sedikit memb—“

“Ayah melarangku untuk ikut pertunjukan, Oppa. Ayah kembali melarangku untuk menari. Ayah selalu keras kepala. Ayah tidak pernah mendengarkan keinginanku. Ayah juga berkata bahwa ia akan segera menikahi wanita sialan itu. Aku tidak mau Oppa. Aku tidak mau… Aku membenci ayah…”

Dan Lee Ji Ahn menangis tanpa suara sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun dengan deru napas yang sangat tidak beraturan. Perlahan suara tangisnya mulai terdengar oleh orang-orang disekitarnya. Membuat beberapa pengunjung caffe menatap aneh kearahnya. Terlebih Kim Myungsoo yang kini mulai berjalan kesamping gadisnya, untuk memeluknya, menenangkannya.

“Tenanglah, ceritakan semuanya padaku. Aku ada disini untukmu,”

Dibagian bilik caffe yang lain, nampak dua pasang mata yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari Ji Ahn dan Myungsoo. Sang gadis kini menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang nampaknya akan segera keluar dari mulutnya. Maka semakin ia menutup rapat mulutnya, semakin keras pula isak tangis yang ia keluarkan. Begitu pula dengan airmata yang mulai mengalir melewati pipinya.

“Park Ahra kau kenap—“

Panggilan Junhong tidak lagi gadisnya dengarkan. Sang gadis berlari menuju pintu caffe sesaat sebelum ia mengambil tasnya dengan kasar. Gadis itu berhenti di sebelah barat pintu caffe, berjongkok sembari menutup wajahnya dengan tangan. Ia menangis. Park Ahra menangis.

Park Ahra menangis? Ini bukan hal asing yang Junhong lihat dari kekasihnya. Menjadi kekasih Ahra selama tiga tahun telah membuat Junhong amat sangat terbiasa dengan tangisan wanita. Pasalnya kekasihnya memang tipikal gadis yang begitu sensitif, mudah sekali tersentuh, mudah sekali terenyuh, dan tentunya mudah sekali menangis.

Tapi kali ini Junhong masih bingung. Sebenarnya apa yang gadisnya tangisi saat melihat Ji Ahn menangis dalam pelukan Myungsoo? Apa Ahra cemburu? Apa gadisnya menyukai Myungsoo? Tidak mungking! Atau mungkin Ahra cemburu karena selama ini Junhong kurang memberikan kenyamanan tiap kali ia menangis?

“Sayang, kau kenap—“

Oppa,” Lagi-lagi pertanyaan Junhong terputus saat sang kekasih memeluknya erat-erat. Seolah takut Junhong akan meninggalkannya sendirian kala ia kalut seperti ini. Junhong membalas pelukan Ahra. Lelaki itu mengusap punggung kekasihnya beberapa kali. Berharap ia bisa tenang, berharap ia berhenti menangis.

“Tenanglah. Ada apa? Ada yang salah?”

Bukannya menjawab, Ahra hanya menggelengkan kepalanya beberapa kembali. Tangisnya semakin deras. Beberapa orang yang berlalu-lalang pun menatap mereka dengan tatapan aneh. But who cares! Disaat kekasihmu sedang kalut dan menangis seperti ini, untuk apa memperhatikan orang lain? Untuk apa mendengarkan ocehan mereka tentang kalian? Apa ada untungnya bagi kalian? Tidak. Itu semua tidak berguna.

“Tenanglah,” Ucap Junhong sekali lagi. Perlahan namun pasti isakan Ahra mulai melambat. Hanya menyisakan bahunya yang turun naik menahan tangis dan juga deru napasnya yang masih tercekat di beberapa saat sebelum ia bernapas.

Merasa suasana mulai tenang dan membaik, Junhong dengan berani membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu yang memang sejak beberapa hari belakangan ini begitu mengganjal di otaknya.

“Jadi, kenapa kau menangis? Apa ada yang salah dengan Ji Ahn? Dengan Myungsoo? Dengan mereka berdua?”

Bukan sebuah jawaban yang Junhong dapatkan, melainkan gelengan kecil dari Ahra. “Lantas apa? Kenapa kau menangis melihat Ji Ahn? Apa ia berbuat salah padamu?” Gelengan kecil kembali Junhong dapatkan sebagai respon dari pertanyaannya.

“Lalu? Oh ayolah sayang, kau belum pernah seperti ini sebelumnya. Jangan terlalu berbelit-belit kau tahu aku tidak suka itu.”

Opoppa,

“Ya?”

“Ak—aku, aku hanya…”

“Hanya?”

“Aku hanya—aku hanya merasa iba melihat Ji Ahn seperti itu. Aku sedih melihatnya. Aku tidak sanggup membiarkannya melalui hari-hari sulitnya seperti ini sendiri tanpa seorang pun disampingnya.”

“Apa kau tahu sesuatu tentangnya? Katakan, mungkin kau atau kita bisa membantunya melewati hari-hari sulit kedepannya.”

“Tidak, aku tidak tahu,”

“Lalu alasanmu menangis karena apa?”

“Karena…karena aku…”

*          *          *

Sore itu Park Ahra dengan sengaja tidak datang untuk latihan. Ia berdalih sedang sakit. Namun nampaknya gadis dengan bando merah muda itu berbohong kepada gurunya. Toh sekarang ia sedang berada di halaman rumah yang amat luas dengan beberapa pohon yang daunnya mulai berguguran, tidak terurus. Gadis itu merapatkan kepalan tangannya dalam saku celana sebelum pada akhirnya ia sampai didepan pintu kayu dengan ukiran mewah disana. Ia berdeham sebelum pada akhirnya menekan bel yang berada tepat disamping pintu.

Ting tong. Ting tong.

No respon.

Sekali lagi gadis itu menekan bel. Menunggu sebentar memang bukan sebuah masalah, namun nampaknya ini terlalu lama sehingga membuatnya hendak menekan bel sekali lagi. Namun gerakan tangannya terputus saat pintu besar dihadapannya terbuka lebar.

Dihadapannya nampak seorang lelaki dengan rahang keras yang menatapnya dingin. Lelaki tadi menggunakan setelah pakaian olahraga lengkap dengan sepatunya. Ahra dapat menarik dua kesimpulan kali ini. Lelaki tadi hendak jogging di sore hari dan lelaki itu adalah ayah Ji Ahn. Benar?

“Selamat sore, paman.” Ahra menunduk dalam. Namun tatapan seseorang yang baru saja ia sapa dengan sebutan paman tidak berubah sedikit pun. Tetap menatapnya dengan pandangan datar dingin yang menusuk. Ahra sempat bergidik ngeri melihatnya.

“Kau siapa?”

“Ah, aku teman Ji Ahn di kampus. Aku datang kemari untuk menemui Ji Ahn dan memberikan tugas yang tadi disampaikan oleh dosen tadi pagi. Bolehkah aku bertemu dengannya?” Park Ahra berbohong kali ini. Tentu tidak mungkin bukan kalau ia mengaku bahwa ia adalah temannya di tempat kursus menari? Bisa mati berdiri dia kali ini.

Lelaki tadi berdeham namun tidak merubah ekspresinya sedikitpun. “Ji Ahn sedang sakit. Saat ini ia tengah beristirahat dan tidak bisa diganggu. Kau bisa menitipkan tugas tersebut padaku.”

Jantung Ahra serasa ingin berhenti berdetak saat itu juga. Bagaimana bisa ia menitipkan tugas yang hanya menjadi bahan bualannya kepada ayah Ji Ahn? Seseorang yang begitu menentang dunia tari menari? Ahra menggeleng kemudian tersenyum kikuk.

“Tidak perlu paman. Biar kutunggu saja sampai Ji Ahn kembali ke kampus. Tugasnya masih akan dikumpulkan dua minggu lagi. Aku kemari hanya untuk menyampaikan pesan dosen tadi. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Maaf menggangu waktu paman, selamat sore.”

Dengan langkah tergesa Park Ahra membalikkan badan dan berjalan melewati halaman rumah Ji Ahn. Memasuki halaman rumah Ji Ahn dan bertemu dengan sang ayah sama saja menakutkannya seperti saat ia menonton film horror yang biasa Jongin atau Jungkook bawa untuk ditonton bersama saat waktu istirahat di tempat kursus. Begitu menakutkan, mengerikan. Ahra berjanji tidak ak—

“Hey, kau!”

Matilah kau Park Ahra—batinnya. Dengan perlahan ia kembali berbalik dan tersenyum. Lagi, kaku.

“Ya paman?”

“Siapa namamu?”

Nama? Untuk apa? Ayolah Lee Ji Ahn, kuharap setelah ini kau bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah ini dengan ayahmu—begitulah batin Ahra.

“Park Ahra,”

“Oh Park Ahra, baiklah,”

*          *          *

Lee Ji Ahn berjalan secara perlahan. Terkadang ia menatap lurus kedepan, terkadang pula ia harus menunduk menatap ponselnya—menatap peta. Ia tengah mencari sesuatu kali ini, bukan, bukan sesuatu melainkan sebuah tempat. Ji Ahn mencari tempat tinggal Ahra. Sebenarnya bukan tempat tinggal, melainkan kios ibu Ahra.

Dan mata bulatnya berbinar kala ia melihat sebuah bangunan berupa kios kecil dengan cat merah marun dihadapannya. Dapat ia pastikan bahwa itu adalah kios milik ibu Ahra. Ia tersenyum kecil sebelum pada akhirnya bersenandung pelan memasuki kios tersebut.

Ternyata itu adalah sebuah rumah makan. Rumah makan mini atau lebih tepatnya. Dengan suasana hangat dan juga menyediakan makanan khas Korea Selatan, sempat membuat Ji Ahn lupa akan tujuan awalnya datang ke tempat tersebut. Gadis berkacamata dengan rambut yang dikepang satu itu berjalan mendekati kasir. Disana nampak seorang wanita yang juga Ji Ahn yakini bahwa itu bukan ibu Ahra. Karena Ji Ahn ingat bahwa Ahra pernah menceritakan ibunya yang menjaga bagian dapur. Sedangkan urusan kasir dan antar-mengantar ia serahkan kepada dua pelayan yang bekerja di kiosnya.

“Permisi eonni, bisa aku bertemu dengan pemilik rumah makan ini?”

Sang penjaga kasir menatap Ji Ahn lamat dari atas sampai bawah kemudian dari bawah sampai atas. Begitu berulang kali.

“Maaf, eonni?”

“Oh, ada perlu apa kau dengan nyonya?”

Ji Ahn tersenyum canggung. “Ada yang perlu aku bicarakan dengan pemilik rumah makan ini. Aku akan memesan beberapa bungkus kue, selain itu ada juga yang harus kubicarakan dengannya.”

Sang penjaga kasir tidak ambil pusing. Ia menyuruh Ji Ahn duduk sebelum pada akhirnya ia beranjak dari duduknya dan memanggil sang nyonya. Itu ibu Ahra tentunya.

“Ah, kau mencariku nona manis?” Ji Ahn terlonjak ditempatnya melihat ibu Ahra telah berdiri disampingnya. Ia tersenyum kaku, sama halnya dengan ibu Ahra. “Ada yang bisa kubantu?”

“Ah bibi, mari duduk. Aku ingin memesan beberapa kotak kue.”

Setelah saling bercakap cukup lama, akhirnya Ji Ahn mengatakan niatan sebenarnya mengapa ia datang kemari. “Sebenarnya aku adalah teman dekat Ahra di tempat kursus. Tentu bibi tahu kan? Ahra sering bercerita bahwa makanan buatan bibi sangat lezat. Maka dari itu aku memesan makanan disini.” Wanita itu terdiam sejenak sebelum pada akhirnya membungkuk berterimakasih.

“Aku ingin bertemu dengan Ahra, bi. Apa Ahra ada? Ada yang harus kutanyakan perihal pertunjukan minggu depan. Sudah dua hari aku tidak datang latihan, aku sakit.”

“Kau sakit apa? Astaga, jaga kesehatanmu baik-baik. Kalian akan segera tampil dan stamina kalian harus benar-benar vit, mengerti?” Ji Ahn mengangguk selagi tersenyum mendengarnya. “Dan untuk soal Ahra, maaf, Ahra sedang tidak dirumah. Sudah sejak sejam yang lalu ia pergi. Kupikir ia akan ke tempat latihan.”

Tidak mungkin, Miss Jung berkata bahwa latihan hari ini dliburkan karena beberapa anggota sedang berhalangan hadir. Lalu kemana Ahra?—batin Ji Ahn.

“Ahh begitu, baiklah tidak apa. Tolong sampaikan salamku padanya ya, bi. Ponselku rusak jadi aku tidak bisa menghubunginya.” Lagi-lagi kau berbohong, Lee Ji Ahn.

“Bibi pasti akan menyampaikannya pada Ahra. Karena kau baru sembuh dan kau juga memesan banyak makanan, tunggu sebentar, biar bibi buatkan semangkuk sup tahu untukmu. Ini makanan kesukaan Ahra, kau tahu.”

“Bi, tidak perlu. Ini merepotkan,”

“Tidak ada yang merasa direpotkan. Tidak apa-apa, anggap saja sebagai jamuan untuk teman baik putriku. Tunggu sebentar ya,”

“Terimakasih, Bibi Park!”

*          *          *

Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Jam berganti hari, dan hari pun berganti minggu. Sudah sepuluh hari lamanya kelompok drama musikal itu berlatih demi pertunjukan yang akan digelar besok malam. Sudah besok malam, dan malam ini menjadi kali terakhir mereka berlatih di ruangan bercat abu-abu seluas enam kali delapan meter itu.

Kali ini semua anggota yang berjumlah enam belas, total delapan belas dengan Miss Jung serta sang suami, Kris Wu, tengah duduk dan membentuk lingkaran besar. Semuanya menunduk dan memejamkan mata tanpa terkecuali. Mereka sedang berdoa untuk latihan terakhir kali ini. Berharap penampilan mereka akan lancar dan tidak terganggu oleh apapun.

Terlebih Ji Ahn, gadis itu menunduk dalam serta menggenggam erat tangan Miss Jung dan Yugyeom disampingnya. Ia terlalu takut, ia takut jika ayahnya tidak akan mengijinkannya untuk berpartisipasi. Ia takut sang ayah akan menolak undangan yang sebentar lagi akan ia berikan. Ia takut, sangat.

Dan kini selesai. Dengan aba-aba yang dilontarkan Miss Jung, semuanya membuka mata dan menegakkan badan masing-masing. Mereka semua saling menoleh dan tersenyum. Menorehkan senyuman penyemangat untuk satu sama lain. Semuanya bangkit kemudian menerima masing-masing sebuah undangan VIP dari Miss Jung. Itu semua Miss Jung yang membelikan, dimaksudkan untuk diberikan kepada orangtua masing-masing agar mereka dapat melihat penampilan sang anak. Bukannya orangtua mereka akan bangga? Harusnya seperti itu, harusnya.

“Kau akan memberikan undangan ini kepada siapa, Ahra-ya?” Suara bass Jongin menginterupsi kegiatan Ahra yang tengah mengemasi barang-barangnya. Ia nampak berpikir sejenak baru menjawab, “Tentu untuk ibuku. Siapa lagi yang akan kuberi undangan ini,”

Dan Jongin mengangguk. Ia beralih pada lelaki yang lebih muda disampingya. “Bagaimana denganmu, Jungkook? Ayah atau ibu?”

Lelaki bongsor itu menggeleng mantap. “Tidak dua-duanya.” Membuat Jongin serta Ahra dan Ji Ahn yang juga berdiri didekatnya menatap lelaki itu dengan pandangan aneh. “Aku akan memberikan undangan ini pada nenekku. Orangtuaku pasti sedang sibuk bekerja, mereka masih di Perancis. Entah kapan mereka pulang,”

Seolah dapat membaca pikiran ketiga teman disampingnya, Jungkook menjawab demikian. Membuat mereka semua hanya dapat ber-oh-ria. Jongin mengangkat tangannya dan menepuk pelan pundak kawannya itu. “Kupastikan orangtuamu juga akan datang, pasti. Orangtua mana yang tega untuk tidak menonton penampilan anaknya yang memang begitu menakjubkan. Omong-omong Ji Ahn, kau sendiri akan memberikan undangan itu kepada siapa?”

Ji Ahn terdiam. Ia menggenggam erat undangan itu sebelum akhirnya menjawab, “Aku akan memberikan kepada ayah. Entah ayahku akan datang atau tidak. Kalau memang ayah tidak bisa datang, aku akan menyuruh sepupuku saja untuk datang. Aku akan memaksanya,”

Ahra yang mendengar penuturan Ji Ahn pun berjalan kesampingnya kemudian merangkul gadis berkacamata itu dengan satu tangan. Ia tersenyum. Ia paham maksud ucapan Ji Ahn, bahwa sebenarnya ia masih belum berbaikan dengan sang ayah. Sang ayah masih tidak mengijinkannya. Masih belum, kita tunggu saja.

“Berikan itu pada ayahmu. Aku yakin ayahmu akan datang. Kalaupun tidak datang, aku juga yakin itu semua bukan semata-mata karena ayahmu tidak mendukung kau untuk menari. Mungkin karena benar-benar ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Ayah mana yang tega meninggalkan pertunjukan sang anak, terlebih sang anak menjadi pemeran utama dalam pagelaran tersebut. Benar tidak?”

Ji Ahn mengangguk mendengar saran Ahra. “Ya, tapi mungkin aku akan berubah pikiran dan memberikan undangan ini pada Eunrim eonni saja. Aku yakin jika kuberikan undangan ini padanya ia akan datang.”

“Dan membiarkan Eunrim eonni pergi sendiri begitu? Atau kau akan membiarkannya duduk berjauhan dengan Taemin oppa? Ck, berikan saja undangan ini pada ayahmu walau tidak secara langsung. Percaya padaku, ayahmu akan menerimanya dan datang pada acara kita, Ji Ahn-ah. Trust me,

Ji Ahn masih diam. Ia juga masih menimang-nimang saran yang diberikan oleh kawan baiknya. Sebelum pada akhirnya, “Baiklah, aku akan memberikan undangan ini untuk ayah.” Dan ahra tertawa senang mendengarnya. Tanpa sadar ia memeluk tubuh mungil Ji Ahn semakin erat, membuat Ji Ahn juga tertawa.

“Lepaskan akuuu. Aku harus pulang, Myungsoo oppa sudah menunggu sedari tadi.” Dan Ahra mengangguk. Ia membiarkan Ji Ahn mengambil tasnya sebelum pada akhirnya Ji Ahn memeluknya dengan erat. “Aku pulang dulu. Semangat untuk besok!”

“Ya, semangat!”

Dan Ji Ahn pun kini tengah berlari kecil meninggalkannya dalam ruang latihan. Hati Ahra terasa hagat. Ia merasa teramat bahagia melihat sang sahabat yang kini dapat tersenyum bahagia. Tanpa sadar ia pun tersenyum dan tertawa pelan.

“Kau berhasil membuatnya tersenyum, kau memang benar-benar sahabat yang hebat.” Sebuah rangkulan melingkar di sekitar leher dan bahunya. Itu suara Miss Jung. Ahra menoleh dan memeluk guru kesayangannya itu.

“Terimakasih atas semua bantuanmu, Miss. Aku menyayangimu,”

*          *          *

“Ibu. Ini undangan VIP khusus untuk ibu, dan ibu harus berjanji padaku kalau ibu akan datang ke acara ini. Berjanji?”

“Ibu berjanji, Ahra-ya. Ibu pasti akan datang pada pertunjukanmu.”

“Terimakasih ibu,––eh halo? Ya halo, Hyeri-ya?”

“Ada apa, Park Ahra?”

“Besok malam ada acara? Bisa datang ke pertunjukan drama musikal di pusat kota? Aku bermain peran, dan aku benar-benar menunggu kehadiranmu.”

“Ah begitu? Baiklah aku akan datang, tunggu saja aku,”

“Benarkah? Akan kutunggu kedatanganmu besok. Terimakasih, Park Hyeri!”

*          *          *

Eonni, halo?”

“Ya Lee Ji Ahn, ada apa?”

“Besok, bisakah kau datang ke pertunjukan drama musikal di pusat kota? Kau bisa ajak Taemin oppa juga. Aku mengambil peran dalam salah satu drama musikal, dan aku ingin kau melihatku. Aku ingin kau datang untuk memberiku semangat.”

“Besok malam? Baiklah aku akan datang bersama Taemin oppa. Tunggu saja kedatanganku, mengerti?

“Benarkah eonni? Ahh terimakasih banyak! Aku berjanji akan memberikan penampilan terbaikku padamu. Aku menunggumu, eonni! Kututup teleponnya, daahh,”

*          *          *

Keesokan malamnya,

Lelaki berusia empatpuluh empat tahun itu mengehentikan gerakan tangannya yang tengah melepas dasi saat manik matanya menatap hal ganjil di mejanya. Ia terdiam, seingatnya ia tidak meletakkan benda semacam ini diatas mejanya sebelum berangkat kerja. Sebuah undangan dan sebuah surat.

Undangan VIP Festival Seni dan Drama Musikal?

Ini sudah pasti perbuatan anaknya. Lelaki tadi hendak membuang undangan itu ke tempat sampah didepannya sebelum ia melirik surat yang juga terletak disamping undangan tadi. Surat apalagi ini?

Untuk ayahku tersayang.

Ayah, untuk kali ini saja, bisakah ayah datang ke acara itu? Aku sudah memberikan undangan VIP untuk ayah. Ayah dapat melihatku dengan amat jelas nantinya. Kumohon ayah, sekali saja. Setelah ini ayah boleh memutuskan apa saja untukku, aku akan menurutinya walaupun aku harus keluar dari kursusku sekarang. Ada sesuatu spesial yang ingin kutampilkan pada ayah. Sesuatu yang seharusnya ayah lihat. Sesuatu yang kuharapkan bisa membuat ayah bangga terhadapku. Dan sesuatu itu, ayah akan mengetahuinya jika ayah datang ke acara itu.

Semua teman-temanku mengajak orangtuanya untuk datang. Jadi, bisakah ayah juga datang? Aku benar-benar menantikan kehadiran ayah.

 

Salam,

Lee Ji Ahn.

 

To Be Continued?

or end?

Haiii adekk~

Yahh sesuai janjiku, this for you guys. Silakan dinikmati, mohon komentarnya, dan mohon jangan dimasukkan kedalam hati ya. Anggap saja mbak kalian yang satu ini lagi stress ngadepin banyak tugas terus jatuhnya jadi gini deh hehehe. Ceritanya gampang ditebak yakan? Yasudah sih nggak papa, toh aku bikin ini cuma karena pengen nulis hehe. Sorry for some typos, and yeahh…happy satnight!

#PS: aku janji bakalan ngepost lanjutan ceritanya nanti setelah aku selesai ujian SMT ya, tunggu aja. Bye~

5 thoughts on “[1/2] TWIN?

  1. /MELTED/
    Berkali kali baca ffmu yg cast Jiahn-Myungsoo kok gak bosen yaa :>
    Sumpah aku suka ceritanya, dan seperti biasa gaya bahasanya aku sukaa soalnya mesti bikin melted :3
    Daaan… Kalo kmu blg ini mudah ditebak kayake nggak deh. Ciyus aku masih gabisa nebak endingnya nih.
    Dan betewe jangan bikin aku kepoo lama lama T.T

    • blog baru?

      well, thankyou banget lohh sudah suka ceritaku walau aku gatau bagian mana yang sebenarnya kamu suka. gaya bahasanya bikin melted? oh gawd-,
      yaahh, untung endingnya ditunggu aja di chapter selanjutnya. aku nggak janji bisa cepat hwhwhw T^T thankyou for reading and commentnya yaa!❤

Say something here ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s