[Oneshot] DAY AFTER DAY

tumblr_static_lovelovelove__2_

.

.

© 2014 ©

ChubbyVampire present

Title: Day After Day || Cast: Lee Minwoo (C-CLOWN’s T.K.) and Hwang Seo Rin (OC) || Genre: Sad//Angst || Length: Oneshot || Rating: PG

“Terimakasih untuk segalanya, aku mencintaimu, sangat.”

.

.

THIS IS MY OWN FANFICTION. STORY AND OC(s) ARE MINE. BASHERS AND SILENT READERS ARE NOT ALLOWED. BUT YOUR COMMENTS ARE VERY WELCOME. THANKISS.

.

.

“Keadaanmu sudah semakin memburuk, Nak. Kuanjurkan kau untuk dirawat di rumah sakit saja. Setidaknya perawatan ini dapat membuat virus-virus yang berkembang dalam tubuhmu melemah dan tidak berkembang sebanyak biasanya.”

Aniya, aku…..aku tidak perlu dirawat di rumah sakit.”

“Tapi…..”

“Aku kuat dokter, aku pasti bisa melawan penyakit ini. Aku pasti bisa.”

 

LEE MINWOO POV

Matanya yang selalu berbinar kala menatapku, pipi gembulnya yang selalu memerah kala kugoda, bibirnya yang selalu mengukir senyuman ceria, kedua lesung pipi yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan, helaian rambut kecoklatannya yang begitu lembut, wajah manisnya yang tiap malam selalu terngiang dibenakku, tingkah lakunya yang begitu menarik perhatian, dan segala sesuatu tentangnya yang selalu kurindukan, ya segalanya.

Hwang Seo Rin.

Gadis yang selama hampir setahun ini selalu mengusik pikiranku. Memenuhi setiap bagian dalam benakku. Mengganggu kerja otakku dengan senyum manisnya. Gadis yang selalu memberiku lelucon konyol. Gadis yang aku sayangi, kemana dia? Aku merindukanmu.

Hyung, gwaenchana?” Seseorang menepuk pelan pundakku. Lelaki itu menatapku dengan pandangan yang tidak biasa. Dia Maru.

“Aku baik-baik saja,”

“Tapi wajahmu tidak menujukkan kalau kau sedang dalam keadaan baik-baik saja, Mnwoo-ya.” Suara Kangjun Hyung mendominasi otak dan telingaku kali ini. Benarkah aku terlihat sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja?

Entahlah, aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku saat ini.

“Minwoo-ya, are you okay?” Barom Hyung mengibaskan telapak tangannya dihadapanku. Membuatku tersadar dari segala lamunan dan mencoba tersenyum kepadanya.

I’m okay, Hyung. Don’t worry about me,” Dapat kutangkap desahan pasrah dari kelima lelaki dihadapanku. Aku sadar mereka mulai gundah dengan keadaanku saat ini. Tapi apa yang dapat mereka lakukan?

“Baiklah kalau kau memang baik-baik saja. Ah Minwoo-ya, dimana Seo Rin?”

Oh damn! Kenapa Siwoo Hyung menanyakan suatu hal yang sama sekali tidak ingin kuungkit untuk saat ini. Kuhembuskan napasku dengan kasar kemudian mengangkat wajah, menatap kelima kawan terbaikku yang kini tengah duduk melingkar dihadapanku.

“Ah wae? Apa aku salah berbicara? Mengapa kau menatapku seperti itu, Minwoo-ya,” Siwoo Hyung terlihat gusar ketika aku menatapnya dengan pandangan tajam. Hey, sebenarnya sudah berapa lama dia menjadi sahabatku? Bukannya aku memang selalu menatap seseorang dengan pandangan seperti ini?

“Seo Rin tidak masuk sekolah, sudah lima hari. Tidak ada yang tahu alasan mengapa gadis itu tidak masuk sekolah selama ini.” Jawabku pelan. Maru yang tengah duduk disampingku sontak terkejut mendengar ucapanku.

“Lima hari? Apa Seo Rin Sunbae gila? Kuyakini dia akan sangat kelelahan setelah menyalin semua catatan dan tugas yang tidak diterimanya selama tidak bersekolah.”

Maru menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar anak ini… Maru, dialah yang paling muda diantara kita berenam. Dia masih berada pada tingkatan satu. Aku, Kangjun Hyung, dan Ray Hyung pada tingkatan dua. Sedangkan Barom Hyung serta Siwoo Hyung di tingkatan tiga. Jadi aku masih bisa menganggap wajar jika Maru seringkali bertingkah berlebihan.

“Kau bahkan tidak tahu alasan Seo Rin tidak masuk sekolah?” Kangjun Hyung bertanya lagi. Ya, aku dan Kangjun Hyung serta Ray Hyung memang tidak berada pada kelas yang sama walaupun kita satu tingkatan. Jadi wajar saja jika dia menyanyakan hal ini padaku.

“Tidak. Dia tidak mengabariku.”

“Apa kau ada masalah dengannya?” Kini suara Ray Hyung yang terdengar. Aku mengangkat wajah kemudian menoleh kearahnya, mengacak rambutku kasar kemudian menggumam mengiyakan.

“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Ceritakanlah pada kami.” Barom Hyung mengambil alih kesempatan dengan mengajukan pertanyaan padaku. Aku tak lekas menjawab, aku masih mengatur napas kemudian membuangnya dengan kasar. Menatap mereka berlima dengan pandangan datar sekaligus sendu.

“Seo Rin menjauhiku,”

 

HWANG SEO RIN POV

Harus berapa lama lagi aku berdiam diri di kamar seperti ini? Sudah lima hari aku tidak bersekolah, penyakitku kambuh. Oh kurasa bukan kambuh. Aku memang selalu sakit, dan selamanya akan seperti ini hingga Tuhan menjemputku.

“Seo Rin-a, ini jadwalmu untuk minum obat. Ayo kemari,”

Kulihat seorang wanita muda berjalan kearahku. Dia Hana Eonni, kakak sepupuku yang datang dari Busan. Ia sengaja menatap di Seoul untuk merawatku. Merawatku? Apa masih pantas orang sepertiku dirawat olehnya? Aku tidak perlu dirawat, ini percuma, hanya membuang-buang waktu saja. Waktuku untuk bertemu Tuhan pun sudah semakin dekat. Aku tahu itu.

“Lupakan tentang obat Eonni, biarkan saja penyakitku menyebar. Sudah tidak ada lagi harapanku untuk sembuh.” Kulirik sebentar, Hana Eonni terlihat begitu terkejut dengan ucapanku tadi. Ia sesegera mungkin mendekat kemudian menemaniku duduk dikasur.

“Seo Rin-a! Apa yang kau bicarakan?!” Dia membentakku. Hana Eonni memang keras, sangat.

“Aku hanya berbicara kenyataan. Bukannya hidupku memang sudah tinggal menghitung hari?”

“Astaga Hwang Seo Rin! Sudah berapa kali aku mengingatkanmu, berpikirlah positif! Kau bisa sembuh! Kau pasti bisa sembuh! Ingat itu!” Wanita muda itu kembali membentakku, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut.

“Selain berpikir positif, kita juga harus berpikir secara logis dan ilmiah bukan? Dokter bilang penyakitku semakin parah, sudah stadium akhir, Eonni harus ingat itu. Tapi, dokter itu masih saja memberiku pengobatan ini itu. Apa dengan semua pengobatan yang sudah kujalani penyakitku ini bisa disembuhkan? Tidak kan? Sudahlah Eonni, jangan membuang waktumu yang begitu berharga hanya untuk mengurusku.”

“Hwang Seo Rin, apa yang kau bicarakan…”

“Secara ilmiah saja aku belum tentu bisa bertahan, apalagi jika dipikir secara logis. Bukannya aku ini sudah mati? Aku ini sudah mati, Eonni! Tidak sepantasnya aku masih berbaring dikasur seperti ini. Harusnya aku sudah terpendam dibawah gundukan tanah, untuk tidur dengan tenang selamanya. Tidak seperti ini, selalu menyusahkan orang lain, tanpa bisa membalas budi lagi,”

Tanpa sadar, perlahan airmataku mulai berjatuhan. Bukan, bukan hanya airmataku. Ini airmata seseorag dihadapanku. Lagi, Hana Eonni menangis karenaku. Lagi, aku membuat seseorang yang kusayang menangis karenaku.

Perlahan tubuh wanita itu merengkuhku kedalam pelukan hangatnya. Hangat sekali. Sejak kecil aku memang jarang merasakan hangatnya sebuah pelukan. Tidak ada yang memelukku. Tidak ada. Orangtuaku? Mereka telah pergi, pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Eonni, jangan menangis, kumohon,”

“Jangan berbicara seperti itu Seo Rin-a, kumohon jangan. Kau tidak sendiri, disini ada aku yang akan menemanimu. Ada aku, selamanya sampai akhir. Kau harus ingat ucapanku,” Perlahan tangannya bergerak untuk mengusap rambutku. Kupejamkan mata kemudian mengangguk pelan.

Isakanku perlahan berhenti, kurasa sudah cukup aku menangis hari ini. Kuangkat wajahku dari dekapan Hana Eonni kemudian menatapnya dengan tersenyum kecil. Namun seketika itulah senyumku menghilang. Berganti dengan wajah terkejut melihat apa yang ada pada genggaman tangan Hana Eonni yang bergetar. Aku terdiam, kututup mulutku dengan kedua telapak tangan. Aku begitu terkejut.

“Iniii…..”

*          *          *

Setelah membersihkan diri, kuambil ponselku yang sedari tadi kusembunyikan dibawah bantal. Terlalu banyak notifikasi disana. Delapan puluh sembilan panggilan tidak terjawab, tujuh puluh tiga pesan, serta entah berapa puluh pesan di KaTalk, WeChat, Line, maupun akun sosial mediaku yang lainnya.

Aku menghembuskan napas pasrah, semua ini dari orang yang sama. Dia. Apa kau tidak lelah menghubungiku? Kucoba mengabaikan semua notifikasi yang ada. Jemariku bergerak diatas layar, menekan icon buku telepon dan mulai mencari sebuah nama yang memang sejak tadi ingin kuhubungi.

Ketemu.

Kutekan icon berwarna hijau dilayar ponselku. Dengan tangan bergetar, kudekatkan ponselku ke telinga dan menunggu seseorang disana menjawab panggilanku.

“Halo, Seo Rin?”

“Ray, bisakah kita berdua bertemu?”

*          *          *

AUTHOR POV

“Hwang Seo Rin, kita harus bicara.” Minwoo menarik tangan gadis yang tengah berjalan tergesa saat istirahat. Gadis itu menoleh dengan tatapan dingin yang tidak pernah sekalipun Ia tunjukkan pada lelaki yang kini tengah menggenggam tangannya.

“Ada apa? Aku tidak punya waktu untuk itu,”

“Ada apa? Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu! Ada apa sebenarnya denganmu? Mengapa akhir-akhir ini kau selalu menjauihiku? Dan kemana kau pergi selama lima hari ini? Mengapa kau tidak mengabariku atau sekedar membalas pesan serta mengangkat telepon dariku?” Minwoo bertanya dengan cepat, sangat cepat. Ya, kemampuan rappnya yang luar biasa itu sedang bekerja baik sekali kali ini.

“Apa itu penting bagimu?” Jawaban Seo Rin membuat Minwoo tidak lagi dapat menahan emosi serta kesan chicnya kali ini. Mata lelaki itu membesar saat itu juga. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan gadis dihadapannya.

“Apa itu penting bagiku? Apa aku tidak salah dengar? Apa kau tahu bagaimana khawatirnya aku, Hwang Seo Rin?! Kau kekasih—ku,“

“Berhenti mengkhawatirkanku, Lee Minwoo. Saat ini aku bukan siapa-siapa lagi dihidupmu. Kita sudah tidak lagi berhubungan, aku memutuskanmu,” Suara gadis itu terdengar sedikit bergetar diakhir kalimat. Dan ucapannya kali ini benar-benar membuat lemas kedua lutut Minwoo. Lelaki itu memandang tidak percaya kearah gadis yang hari ini terlihat begitu pucat itu.

“Apa maksudmu? Mengapa kau memutuskanku secara sepihak?”

“Ada lelaki lain yang aku cintai,”

“…..siapa?”

“Ray,”

*          *          *

“Ray, kau tahu kemana perginya Minwoo? Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk sekolah.” Bukannya menjawab, Ray hanya mengangkat bahunya sembari melirik Seo Rin.

Setelah kejadian memutuskan-Minwoo-secara-sepihak, lelaki itu tidak lagi terlihat di sekolah. Entahlah, tidak ada yang tahu kemana perginya lelaki Capricornus itu. Dia bagaikan menghilang, tidak ada seorang pun yang tahu kemana perginya seorang Lee Minwoo. Dan hal itu semakin membuat perasaan Seo Rin tidak nyaman. Bukannya sesegera mungkin menyelesaikan masalah, gadis itu semakin memperburuk suasana. Minwoo yang menghilang, penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya, tugas-tugas dari sekolah, dan kali ini gadis itu benar-benar tidak dapat berpikir secara jernih lagi.

Bohong. Semua yang telah Ia ucapkan pada Minwoo saat istirahat itu hanyalah sebuah fiktif belaka. Ia mengarang semuanya. Ia tidak mencintai Ray, yang Ia cintai hanyalah Minwoo, hanya seorang Lee Minwoo. Tetapi situasi menghimpitnya, kondisinya lah yang memaksa gadis itu harus berbohong, bahkan pada seseorang yang begitu dicintainya.

“Kau yakin ingin melanjutkan semua sandiwara ini?” Pertanyaan Ray membuat Seo Rin terdiam. Ia masih menimang-nimang, bingung untuk menjawab apa. Ia menatap ragu kearah Ray kemudian mengangguk pelan. Lelaki itu mengerti, Ia menepuk pelan pundak Seo Rin, memberi semangat pada gadis itu.

“Jika kau tidak yakin, hentikan saja semua ini. Aku tahu ini menyakitkan,” Seo Rin menggelengkan kepalanya mendengar saran dari Ray. Ia tidak mungkin menghentikan sandiwara ini. Tidak, sampai kapanpun tidak akan.

“Tidak mungkin, aku tidak ingin menyakitinya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Bukannya dengan seperti ini kau semakin melukai hatinya? Ingatlah, kau juga sedang melukai perasaanmu sendiri saat ini, Hwang Seo Rin.”

Mereka berdua terdiam. Seo Rin tidak berani menjawab, bahkan menatap Ray saja gadis itu tidak berani. Apa yang dikatakan lelaki disampingnya saat ini memang benar adanya. Ia semakin melukai perasaan Minwoo. Namun dengan sandiwara ini, bukan hanya Minwoo saja yang tersakiti, melainkan dirinya juga.

“Lagipula, mengapa kau tidak berterus terang saja kepada Minwoo tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

“TIDAK! Tidak mungkin,”

“Mengapa tidak?”

“Tidak Ray, aku…..aku hanya tidak ingin Minwoo mengetahui yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tidak ingin.” Seo Rin menunduk dalam, sakit yang Ia rasakan kali ini berlipat ganda dari sebelumnya. Hatinya kini jauh lebih sakit dibandingkan penyakit yang Ia derita.

“Maafkan aku,” Ray menoleh kearah Seo Rin yang tengah menunduk. Ia tidak mengerti dengan ucapan gadis itu.

“Apa?”

“Maafkan aku, mungkin setelah ini hubunganmu dengan Minwoo tidak lagi membaik,” Ray terkekeh mendengar ucapan Seo Rin. Ia mengacak rambut gadis itu dan meleletkan lidahnya tepat dihadapan wajah Seo Rin.

“Tenanglah, aku yakin jika aku berkata sejujurnya dia akan mengerti.”

Tiba-tiba Seo Rin melepaskan cincin yang tengah melingkar di jari manis kanannya. Ia menarik tangan Ray dan meletakkan cincin itu dalam genggamannya. Ray yang tidak mengerti hanya dapat menatap penuh tanya pada Seo Rin.

“Apa ini?”

“Simpan saja. Tapi kau harus berjanji, jika telah tiba waktunya kau harus memberikan ini pada Minwoo. Kau mengerti kan?”

 

LEE MINWOO POV

Kulihat Seo Rin melepaskan cincinnya dan memberikan benda bulat itu pada Ray Hyung. Sial, mereka berdua benar-benar telah menyulut emosiku. Itu adalah cincin pemberianku untuk Seo Rin semanjak kita baru berpacaran hampir setahun lalu.

Kulangkahkan kakiku mendekati mereka berdua. Namun seketika itu pundakku tertahan sesuatu.

“Jangan bermain kasar,”

Aku tidak lagi menghiraukan ucapan Barom Hyung. Yang ada di otakku saat ini hanyalan mengadili mereka berdua, bahkan jika perlu memukul habis Ray Hyung. Kulangkahkan kakiku semakin mendekati mereka berdua. Hingga kurang dari tiga meter lagi, kuhentikan langkahku dan berdeham pelan.

“Jadi yang selama ini kalian lakukan dibelakangku adalah ini semua?”

Perkataanku nampaknya membuat kedua insan tersebut terkejut. Kulirik Seo Rin yang tengah menatap dingin kearahku. Dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah mobil didekat kami. Aku tahu itu mobil Ray Hyung, dan disana ada Maru yang tengah memperhatikan kita dari kaca spion.

“Hey Kim Hyun Il, aku sedang berbicara denganmu.”

“Oh, kau sedang berbicara denganku nampaknya. Ya, ini semua memang yang selama ini kita lakukan dibelakangmu. Ada masalah?” Shit. Melihat Ray Hyung yang sedang tersenyum miring karena bangga seperti itu benar-benar membuatku emosi. “Kau terlihat seperti orang yang sedang menahan amarah. Lee Minwoo, apa kau cemburu?”

Sial.

“Kurang ajar kau!”

BUG. Satu pukulan keras mendarat di pipi kiri Ray Hyung. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dan wajahnya berubah menjadi lebam. Persetan dengannya yang sudah kuanggap sebagai kakak, sahabat, dan keluarga. Kali ini dia telah mengkhianatiku dan inilah balasan yang harus diterimanya.

Baru saja aku hendak memukulnya kembali, Barom Hyung dan Kangjun Hyung datang menghampiriku. Mereka berdua menahan pergerakan tanganku yang kini tengah terkepal. Ingin sekali rasanya mendaratkan sekali atau bahkan berkali-kali lagi pukulan padanya.

“Minwoo, sudahlah jangan berkelahi!”

“Lepaskan aku, Hyung! Aku harus memberi pelajaran pada pengkhianat yang satu itu!” Kilahku. Dihadapanku terlihat Siwoo Hyung serta Maru yang nampak juga sedang kesulitan menahan pergerkan Ray Hyung.

“Lee Minwoo, ayo pukul! Pukul aku! Pukul aku lagi jika kau memang sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu sejak kecil!” Dari arah sana Ray Hyung berteriak. Apa yang baru saja diucapkannya? Sahabat? Tidak ada sahabat di dunia ini yang berkhianat pada sahabatnya sendiri.

Bulshit, kau pengkhianat dan kau bukan sahabatku lagi,”

“HYUNG!” “LEE MINWOO!” Terdengar suara teriakan ala orang terkejut yang kentara sekali. Apa teman-temanku disini terlalu terkejut mendengar ucapanku? Apa aku salah? Memang benar bukan, tidak akan ada sahabat yang mengkhianati sahabatnya. Jika Ia berkhianat, ck, itu bukan sahabat namanya.

“Lee Minwoo, kau harus ingat jika kita satu. Kita C-CLOWN! Kau ingin melupakan semua kenangan tentang persahabatan kita?”

Entah mengapa setelah mendengar tuturan Kangjun Hyung lututku perlahan melemas. C-CLOWN? Grup musik mini yang telah kita arungi bersama semenjak dua tahun belakangan. Bersama-sama mengisi di caffe, pesta, ataupun acara sekolah, menjadi pemenang dalam beberapa perlombaan, menghabiskan waktu bersama di studio rekaman mini milik orangtua Barom Hyung. Perlahan memori tentang kebersamaan kita berputar layaknya sebuah film di benakku.

Benar, kita satu.

Tapi melihat Kim Hyun Il yang babak belur disana, bayangan tentang momen-momen bahagia bersama C-CLOWN kembali memudar. Berganti dengan emosi yang kembali tersulut dari dalam hati. Bukan, dia bukan satu, dia bukan sahabatku. Dia pengkhianat. Kim Hyun Il seorang pengkhianat.

“Kim Hyun Il, masalah kita belum selesai.”

*          *          *

PRANG.

Kupukul kaca kamar mandi hingga pecah. Tanganku berdarah, sakit. Namun hatiku lebih sakit mengingat sahabat yang selama ini kubanggakan mengkhianatiku.

 

Aku menghubungi Barom Hyung, Siwoo Hyung, Kangjun Hyung, serta Maru untuk menamaniku pergi ke bar. Aku ingin minum soju sebanyak mungkin agar bisa melupakan masalah ini. Persetan dengan aku yang masih dibawah umur. Aku hanya ingin melupakan semuanya.

Sesampainya di tempat parkir bar, aku cukup terkejut saat Maru menghentikan mobil secara mendadak. Hampir saja dia menabrak sedan hitam didepan kami. Tunggu, sepertinya aku tahu siapa pemilik mobil itu.

Hyung, bukannya itu mobil milik Ray Hyung?

Mataku membesar melihat mobil itu. Bukan, bukan mobilnya, tapi dua orang didalamnya. Disana kulihat Seo Rin yang sedang meraba pipi kiri Ray Hyung yang lebam akibat pukulanku. Sepertinya Ray Hyung menyadari kehadiranku serta teman-temanku disini. Dengan segera Ia merangkul Seo Rin kemudian tersenyum miring.

“Brengsek!”

Aku keluar hendak menghakimi mereka berdua. Ray Hyung semakin menjadi-jadi, Ia mencium puncak kepala Seo Rin yang sedang menunduk. Shit! Kali ini aku sudah benar-benar benci kepada mereka berdua. Baru saja aku hendak memukul kaca mobil, Maru serta Kangjun Hyung menahan pergerakanku dan sesegera mungkin menarikku menjauh dari tempat terkutuk itu.

Sial, lagi-lagi aku gagal menghakimi mereka berdua.

 

HWANG SEO RIN POV

Sejak kejadian di bar beberapa hari yang lalu, Minwoo tidak pernah lagi masuk sekolah. Aku khawatir padanya. Tapi kata Barom Sunbae dia sedang baik-baik saja disana. Disana? Entahlah dimana tempatnya aku pun tidak tahu. Jika Minwoo baik-baik saja disana, beda halnya denganku. Penyakit yang menggerogotiku semakin parah dan menjadi-jadi. Rambutku sudah semakin banyak yang rontok, aku hampir gundul.

Jika kalian bertanya apa penyakitku, aku menderita kanker otak serta leukemia. Cukup parah bukan? Penyakitku sudah masuk stadium akhir. Dokter sudah terlalu sering menyuruhku untuk sesegera mungkin melakukan operasi, namun aku selalu menolaknya karena biaya yang sangat mahal. Sudah cukup aku menyusahkan orang-orang yang berada didekatku. Namun karena tiga hari yang lalu aku ditemukan pingsan di kamar mandi, Hana Eonni memaksaku untuk melakukan operasi dan mau tidak mau aku harus menurutinya.

Dan sekarang aku sedang duduk di kasur rumah sakit menunggu saatku untuk di operasi. Ray, Barom Sunbae, Siwoo Sunbae, Kangjun, dan juga adik kelasku yang paling tengil yaitu Maru juga berada disini. Ray yang menceritakan semuanya. Bahkan sedari tadi mereka selalu memberiku semangat walaupun kita semua sama-sama tahu kemungkinan aku selamat hanya sekian persen.

Lima menit lagi operasiku dimulai dan para perawat mulai merapikan kasurku. Tiba-tiba Kangjun berjalan mendekat dan menggenggam erat tanganku.

“Seo Rin-a, kau harus kuat, arra? Kita semua, Minwoo, menunggumu kembali disini untuk tersenyum kembali. Kau tidak boleh menyerah! Figthing!” Kutatap mata Kangjun yang tengah memberiku semangat dengan lamat sebelum akhirnya mengangguk. Setelah mengucapkan kalimat tadi Kangjun segera berlari keluar dari kamar.

Mataku berkaca-kaca mendengar ucapannya, mereka menungguku? Termasuk Minwoo?

Sebelum perawat membawaku ke ruang operasi, kupandangi wajah mereka satu persatu. Barom Sunbae, seniorku si penggila dance. Siwoo Sunbae, senior yang paling sering menemaniku di perpustakaan karena kita selalu belajar bersama sebelum olimpiade. Maru, adik kelasku yang sangat tengil dan selalu ceria. Ray, orang yang telah kujadikan pelampiasan dari semua ini. Mereka C-CLOWN namun tidak lengkap. Karena Minwoo, dia tidak sedang berada disini bersamaku dan yang lainnya sekarang.

Dan sekarang saatnya. Kini aku telah siap untuk memasuki ruang operasi itu. Aku rela, aku benar-benar rela untuk menyerahkan semuanya kepada para dokter yang akan membedah otak serta tubuhku. Semoga saja operasiku berjalan lancar walaupun harapan itu hanya bagaikan terangnya seekor kunang-kunang di pekatnya malam. Tetapi jika operasiku memang tidak bisa dilanjutkan……aku harus benar-benar meninggalkan semuanya, menyusul kedua orangtuaku di Surga.

 

LEE MINWOO POV

Ponselku bergetar. Kangjun Hyung menelponku.

“Hal—?”

“Miwoo-ya, kau dimana?” Dia membentakku bahkan sebelum aku mengucapkan salam.

“Aku tidak sedang berada dirumah. Sudahlah Hyung, berhenti mencari dan menghubungiku.”

“Lee Minwoo jebal! Aku tahu kau memang keras kepala, tapi tolong sekali ini saja dengarkan ucapanku. Cepat datang ke Rumah Sakit Wooridul Spine sekarang juga! Seo Rin sedang menjalani operasi saat ini.”

Seo Rin di operasi? Ada apa dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Segera kumatikan panggilan dan berlari sekencang mungkin menuju tempat yang dikatakan Kangjun Hyung tadi. Sempat beberapa kali menabrak orang namun aku tidak menghiraukannya, bahkan meminta maaf saja tidak. Yang ada dipikiranku kali ini hanya rumah sakit dan keadaan Seo Rin.

Hwang Seo Rin, kau kenapa?

Sekitar kurang dari setengah jam aku berlari, akhirnya sampai juga di rumah sakit ini. Aku segera menuju petugas administrasi dan menanyakan dimana ruang operasi. Dan ternyata di lantai empat. Tanpa membuang waktu aku segera menaiki tangga menuju tempat tersebut. Sampai di anak tangga terakhir, kulihat Ray Hyung yang berjalan kearahku. Aku membuang muka dan kembali melangkah. Namun kali ini Ia menahan tanganku.

“Dia hanya ingin mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Terimalah,” Ray Hyung menyerahkan sebuah bungkusan dan surat yang kuyakini keduanya memang ditujukan kepadaku. “Semoga setelah membaca surat itu kau bisa menerimaku seperti dulu, menjadi sahabatmu, menjadi kakakmu.” Ray Hyung menepuk pundakku kemudian berjalan menjauh.

Aku berjalan gontai menuju depan ruang operasi. Jujur, tenagaku telah terkuras habis karena berlari dan menaiki tangga. Kudapati didepan ruang operasi sudah ada Barom Hyung, Siwoo Hyung, Kangjun Hyung, serta Maru yang sama lemahnya sepertiku. Saat menyadari kedatanganku, mereka hanya menatap dan memberiku semangat seolah-olah semuanya akan berjalan lancar. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya. Tentu, aku berharap semuanya lancar dan dapat bersama Seo Rin-ku lagi.

Kubuka bungkusan yang diberikan Ray Hyung tadi, itu cincin yang sama seperti yang kuberikan padanya. Dia memberikannya padaku? Lalu untuk apa dulu dia melepas dan memberikan cincin itu pada Ray Hyung?

Masih ada satu hal lagi, surat.

Untuk Lee Minwoo-ku.

Minwoo-ya, annyeong! Bagaimana kabarmu? Semoga saat membaca surat ini kau sedang bahagian dan baik-baik saja. Kau tidak boleh sedih karena aku melarangmu untuk itu. Aku disini akan ikut sedih jika kau sedih. Mengerti, sayang?

Minwoo-ya, maafkan aku yang telah berlaku jahat padamu. Selama ini aku berbohong, aku tidak mencintai Ray. Itu semua hanya sandiwara yang kubuat agar kau membenciku. Aku tidak mencintainya karena aku masih mencintaimu, sangat.

Maafkan aku karena telah berbohong padamu. Aku sakit, aku seorang pengidap kanker otak dan leukemia stadium akhir. Aku tahu usiaku memang tidak lama lagi. Atau mungkin saat membaca surat ini kita sudah berbeda dunia. Ahh, apakah yang tadi lucu? Kuharap begitu, kuharap kau tertawa saat membacanya. Aku hanya tidak ingin memberitahumu tentang penyakit yang kuderita. Maka dari itu aku memutuskanmu dengan mengaku bahwa aku menyukai Ray. Aku ingin membuatmu membenciku. Kenapa? Karena dengan membenciku, ketika aku telah tiada nanti kau tidak akan merasa sedih. Atau mungkin sebaliknya, kau akan bahagia. Minwoo-ya, kumohon kau jangan marah atau bahkan sampai membenci Ray. Semua ini murni salahku dan sama sekali bukan salahnya. Aku yang menyuruh dia untuk melakukan ini semua. Tolong, anggaplah dia sahabat dan kakak terbaikmu lagi seperti dulu. Aku mohon…

Minwoo-ya, sampaikan permintaan maaf serta terimakasihku kepada kalian semua. Terima kasih kepada Barom Sunbae, Siwoo Sunbae, Kangjun, dan juga adik kecilku Maru yang selama beberapa hari ini sudah bersedia menemaniku di rumah sakit dan menutup penyakitku darimu. Maaf karena aku merepotkan mereka. Sampaikan juga terima kasihku kepada Ray karena dia sudah mau melakukan sandiwara ini denganku. Maaf karena aku telah merusak hubungan persahabatn kalian berdua. Dan terakhir, terima kasih Minwoo. Terima kasih karena kau pernah menjadi orang yang paling indah dalam hatiku, paling berharga dalam hidupku, bahkan sampai saat ini. Jeongmal gomawo. Maaf karena aku telah membohongimu, maaf karena aku selalu menyusahkanmu, maaf karena membuat hubunganmu dengan Ray menjadi tidak baik, maaf karena semuanya. Aku mencintaimu, Lee Minwoo.. Semoga kita bisa bertemu lagi setelah ini. Saranghae…❤

With Love

Hwang Seo Rin

KLEK.

Setelah membaca surat Seo Rin, pintu ruang operasi terbuka. Terlihat beberapa dokter dan banyak perawat yang mendorong sebuah ranjang. Diatasnya terbaring sosok yang sangat kukenal walaupun kini wajahnya tertutup selimut. Melihat hal itu Maru langsung menangis, Barom Hyung terdiam dengan mata merah menahan air mata, Siwoo Hyung menutup wajahnya dengan kedua tangan, Kangjun Hyung nampaknya juga menangis, Ray Hyung hanya menunduk membelakangi kita semua. Sedangkan aku? Aku hanya dapat berjalan mendekati sosok tidak bernyawa itu. Aku tahu, Hwang Seo Rin…

Aku menunduk dan menangis. Hatiku sakit, terlalu sakit mungkin mengetahui hal ini.kau berbohong Hwang Seo Rin! Kau bilang kau akan bertemu denganku lagi, tapi kenapa dalam keadaan seperti ini? Apa kau tahu aku hancur melihatmu saat ini? Aku telah terlambat, aku terlambat untuk menemanimu di akhir, aku terlambat untuk membuatmu bahagia di akhir. Kau meninggalkanku dan aku meninggalkanmu dalam situasi pahit, harusnya tidak seperti ini kau tahu. Harusnya aku membuatmu bahagia! Harusnya aku melakukan itu! Dan aku terlambat untuk melakukan itu semua, bahkan aku terlambat untuk meminta maaf padamu, Hwang Seo Rin!

“Hwang Seo Rin… Selamat tinggal… Aku mencintaimu, sangat…”

 

Oh my girl, I cry cry. You’re my all, say goodbye bye
Oh my love, don’t lie lie. You’re my heart, say goodbye

.

.

|| THE END ||

 

Hayyo! Selamat malam minggu!

Bagaimana ceritanya? Garing krenyes-krenyes eak? Itu sih selalu~

Wkwk, sebenernya fanfic ini adalah hasil remake dari fanfic yang aku bikin pas kelas 8 kemarin. Fanfic yang aku jadikan sbg challange fanfic dari temen aku itu lho. Dan sekarang aku bikin lagi dengan maksud dan harapan bisa lebih baik lagi dari yang dulu. Krn cukup buanyak (bahkan hampir di semua bagian) aku ubah kata-katanya. Kan dulu kata-katanya alayy gitu;;; Sekarang gimana? Apa sudah lebih bagus? Atau makin buruk? Hihihii~

Dan utk cover, duhh apaan sih itu aku juga nggak ngerti kenapa malah pakai foto itu buat dijadikan cover. Maaf ya aku masih nggak sempet ngedit dalam waktu dekat ini. Serius pr numpuk trs ulangannya juga uakeeehhh tenan. Ini membuatku pusyang dan tercakiti hiksss.

Siapapun yang sudah membaca, saya ucapkan terimakasih. Dan tolong partisipasinya untuk meninggalkan komentar kalian tentang ini. Dimohon utk tidak menjadi silent readers kawansss! Terimakasih!🙂

Say something here ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s