[PROJECT] Valentine Has Come! #2

NO BASH AND DON’T BE A SILENT READERS GUYS!

———————————————————————————————————————————–

#1

———————————————————————————————————————————–

Jung Daehyun and Jung Eunji’s Story

(Drabble / PG 15)

cute-heart-korean-kpop-love-bap-daehyun-adorable-korean-guy-bap-jung-daehyun-Favim.com-786220

The Same Things

*          *          *

“Banyak hal yang sama diantara kita berdua.” Ucap Daehyun sebelum memakan tteokbokkinya. Gadis disampingnya—JungEunji— hanya mengerutkan alisnya tak mengerti.

“Apa? Kurasa banyak yang berbeda.”

“Banyak sekali, Eunji-ya. Kau bagaimana mungkin tak menyadarinya.”

“Tidak juga, barang-barangku terkesan feminim. Dan kau? Hm, clasic,”

“Mari kita lihat. Jam wekermu sama denganku, handphone dan flipcase kita pun sama,  beberapa model jaket, kaus tangan, kaus kaki, headphone, nomor rumah, nomor absen, tahun lahir, bahkan kebiasaan kita pun sama.”

“Itu karena kau yang hobi sekali mengikutiku.” Eunji menjulurkan lidahnya dihadapan Daehyun setelah mengucapkan kalimat itu. Membuat namja dihadapannya menekuk wajah, sebal.

“Kau terlalu percaya diri, Jung Eunji. Apa tidak salah? Bukannya kau yang selalu mengikutiku?” Balas Daehyun tak mau kalah.

“Enak saja. Lagipula kau apa-apaan, huh? Hanya barang sama saja kau permasalahkan. Mungkin ini hanya kebetulan. Diluar sana tentu masih banyak orang yang memiliki barang yang sama persis seperti kita. Apa kau pikir setiap pabrik hanya akan memproduksi dua buah barang saja dan hanya untuk dibeli kita, begitu?” Cercaan Eunji hanya di respon anggukan malas Daehyun. Namja itu memilih diam daripada harus beradu argumen dengan gadis disebelahnya.

“Ya kau benar. Pabrik tak akan memproduksi barang hanya untuk dibeli oleh kita. Tapi aku tahu satu hal, sesuatu yang sama dan hanya dimiliki oleh kita berdua.” Ucapan Daehyun ternyata cukup menarik perhatian Eunji yang sejak tadi menikmati tteokbokkinya.

“Apa itu?”

“Bodoh. Kau benar-benar tidak tahu atau hanya sedang berakting, hm?”

“Aku sedang malas berpikir, otomatis aku tidak tahu.” Eunji menjawab sekenanya.

Dan lagi, namja disebelah gadis itu hanya dapat menggelengkan kepalanya. Malas dan bosan menghadapi tingkah konyol Eunji. Ternyata gosip yang selama ini beredar memang benar adanya, Eunji akan melupakan segalanya jika sudah berhadapan dengan makanan.

“Sesuatu yang sama itu adalah….perasaanku terhadapmu, dan juga perasaanmu terhadapku. Perasaan kita yang saling mencintai satu sama lain. Bukannya begitu, Jung Eunji?”

“Eh?”

THE END

———————————————————————————————————————————–

Kim Myungsoo and Lee Ji Ahn’s Story

(Ficlet / PG 15)

3942_9np

Engangement Dress

*          *          *

“Tidak bisa Oppa, waktunya hanya tersisa seminggu lagi.” Ji Ahn berjalan tak tentu arah didalam kamarnya. Myungsoo yang melihatnya hanya dapat menghela napas pelan.

“Sudahlah, kita cari saja yang lain. Bagaimana? Lagipula eomma sudah menyiapkan sebuah gaun untukmu di rumah.” Ajakan Myungsoo mendapat respon negatif dari Ji Ahn. Gadis berusia duapuluh tahun itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, menolak ajakan Myungsoo yang dengan setia mengikuti kemana pun gadis itu pergi.

“Tidak Oppa, aku tidak bisa. Hanya dia designer yang benar-benar mengerti aku.” Ji Ahn terduduk di pinggiran kasur. Rambutnya acak-acakan dan penampilannya sungguh berantakan. Myungsoo lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Ia berjalan pelan kemudian duduk disamping kekasihnya itu.

“Eun Rim tadi bicara apa saja denganmu?” Tanya Myungsoo sabar. Kekasihnya memang cukup kekanakan jika menghadapi sesuatu.

“Tadi eonnie bilang jika Mrs. Hong akan pergi ke Perancis selama dua bulan. Itu artinya dia akan melewatkan pertunangan kita, Oppa. Dan…dan, astaga, kita akan memesan gaun dimana? Sudah cukup, aku trauma dengan beberapa designer pilihan eomma, mereka tidak mengerti aku.” Ji Ahn mengacak rambutnya pasrah dan menidurkan dirinya di kasur lalu menutup wajahnya menggunakan bantal. Tak terasa, perlahan bulir air matanya pun jatuh melewati pipi chubbynya.

Chagiya, ayolah jangan cengeng seperti ini. Ingatlah usiamu saat ini, enam bulan lagi kau sudah berkepala dua, astaga.”

Myungsoo ikut merebahkan tubuhnya disamping Ji Ahn. Namun nyatanya yeoja itu tidak menggubris perkataan kekasihnya sama sekali. Ia tetap menutup wajahnya dan mencoba untuk menahan tangisnya yang kelamaan semakin terdengar jelas. Ia berharap Myungsoo tak mendengarnya yang sedang menangis. Namun sayang, namja itu mengetahuinya.

“Hey, kau menangis?” Myungsoo mencoba meraih tangan Ji Ahn yang masih memegang bantal dengan erat.

“Ji Ahn-ah, ayolah, kau menangis karena apa? Ceritakan padaku,” Myungsoo tak mengerti dengan tingkah Ji Ahn. Mengapa gadis ini menangis hanya karena Mrs. Hong pergi ke Perancis?

Perlahan Ji Ahn mulai bangkit dari tidurnya. Dan dengan takut-takut ia pun meletakkan bantal yang basah karena airmatanya. Myungsoo menatap lekat kekasihnya, masih sama seperti tadi, ia tak mengerti apapun tentang alasan Ji Ahn menangis. Hanya karena gaun?

My princess, come on tell me. Whats wrong, hm?” Perlahan tangan Myungsoo terangkat, dan pada akhirnya menarik pelan tubuh kecil Ji Ahn kedalam dekapannya. Yeoja itu tentu tidak menolak, ia pun melingkarkan tangannya disekitar pinggang Myungsoo. Mendekapnya erat seolah tak ingin barang sedetik pun kehilangannya.

“Oppa, apa ada yang salah denganku?” Tanya Ji Ahn membuka suara.

“Tidak ada, ada apa memangnya?”

“Dengan penampilanku?”

“Tidak, sayang,”

“Jangan berbohong, aku tidak menyukainya,”

“Siapa yang berbohong? Aku bukannya berbohong, aku memang tidak menemukan perbedaan pada penampilanmu. Dan satu yang terpenting, aku tak mengerti kemana arah pembicaraanmu.” Myungsoo menjelaskan dengan sabar. Membuat Ji Ahn yang berada dalam dekapannya menegakkan tubuhnya, dan menjauhkan dirinya dari dekapan Myungsoo.

“Benarkah? Eun Rim eonnie bilang aku semakin gemuk akhir-akhir ini, Oppa.” Sungut Ji Ahn. Myungsoo, namja itu sungguh tak dapat menahan tawanya mengingat ucapan kekasihnya tadi. Terdengar kekanakan sekali bukan?

“Ya! Kenapa kau menertawaiku, huh!?” Ji Ahn memukul lengan Myungsoo dengan keras. Membuat pria itu mengaduh kesakitan  dan memegangi lengannya yang baru saja dipukul.

“Astaga, benar kata Eun Rim ternyata, kau semakin gemuk akhir-akhir ini. Pukulanmu begitu menyakitkan,” Myungsoo dengan sengaja mengubah ekspresi wajahnya menjadi semenyedihkan mungkin. Ia ingin mengerjai kekasihnya kali ini. Berpura-pura boleh kan?

“YAK OPPA!!!” Ji Ahn yang kesal akan kelakuan Myungsoo pun balik menyerangnya. Ia memukul tubuh Myungsoo menggunakan bantal yang tadi digunakan untuk menangis. Myungsoo hanya tertawa meratapi nasibnya yang kini menjadi korban kemarahan kekasihnya.

“Cukup cukup, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyindirmu, hahaha,” Pada akhirnya Myungsoo pun menahan tangan Ji Ahn yang sedari tadi memukulinya menggunakan bantal. Ia terkikik geli melihat wajah Ji Ahn yang semakin ditekuk karena kesal.

“Kau menyebalkan! Kau dan Eun Rim eonnie sama saja. Kalian menyebalkan!” Ji Ahn lagi-lagi berteriak kesal. Hingga suara teriakan seorang yeoja lainnya menghentikan peperangan mereka.

“LEE JI AHN DIAM!!! AKU INGIN TIDUR!!!” Itu suara Eun Rim, kakak Ji Ahn.

See? Eun Rim menyuruhmu diam, ssssttttt kau cerewet sekali.” Dan sekali lagi, Myungsoo menarik tangan Ji Ahn dan membawanya kedalam dekapan hangatnya. Seketika itulah Ji Ahn terdiam.

“Aku tahu semuanya sekarang,” Ucapan Myungsoo membuat Ji Ahn penasaran.

“Apa?”

“Aku tahu kenapa sejak tadi kau begitu kebingungan dan terlihat frustasi.”

“Ya, kau sudah tahu. Sekarang aku semakin gemuk dan designer yang akan membuatkan gaunku pergi. Itu tandanya hari bahagia kita akan berantakan dan tak seindah apa yang kubayangkan sejak dulu.” Ji Ahn berucap pelan. Myungsoo yang mendengarnya hanya tersenyum.

“Apa yang sebenarnya kau takutkan, hm?”

“Tidak ada,”

“Apa kau berpikir aku akan meninggalkanmu dan membatalkan pertunangan kita hanya karena kau gemuk? Begitu?” Tepat sasaran!

“Tidak, aku tidak pernah berpikiran seperti itu,”

“Haha aku tahu kau bohong, sayang,” Myungsoo mencium puncak kepala Ji Ahn pelan. Membuat perasaan aneh itu kembali kental terasa. Dentuman jantung yang semakin menjadi-jadi, kupu-kupu yang seakan beterbangan didalam rongga perut, serta sengatan-sengatan kecil yang mampu membuat wajah keduanya merah padam, terlebih wajah Ji Ahn.

“Apa aku harus menurunkan berat badanku, Oppa? Aku bisa berdiet selama seminggu ini. Semoga saja membuahkan hasil.”

“Kau akan berdiet dan membiarkan Eun Rim memarahimu lagi? Kau tahu kan, dia sama sekali tak akan memberikan kesempatan untukmu melakukan hal itu.”

“Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku hanya berdiam diri dan menumpuk lemak selama seminggu ini?”

“Aku yang akan bertanya, memangnya kenapa jika kau gemuk? Apa ada yang salah?” Pertanyaan Myungsoo membuat Ji Ahn terdiam. Ia memikirkan jawaban apa yang seharusnya ia jawab agar tak menyinggung perasaan kekasihnya.

“Jawab aku, apa kau malu jika saat hari pertunangan kita kau terlihat gemuk?”

“Oppa….”

“Sudah kuduga,”

“Oppa, bukan begitu. Hanya saja, aku….aku tidak percaya diri. Bagaimana jika gaun yang eomonim buatkan terlalu kecil? Itu akan menjadi sangat aneh. Aku hanya tak ingin merusak hari bahagia kita, itu saja.”

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“Aku….aku hanya merasa tak pantas berdampingan denganmu nanti. Karena biasanya, gaun-gaun bagi mereka yang bertubuh gemuk tak akan sebagus gaun biasa. Biasanya model yang digunakan tidak beragam, monoton dan hanya itu saja. Aku tidak mau.”

“Kau apa-apaan, huh? Jangan pernah sekali-kali berpikiran jika kau tak pantas bersanding denganku.” Perkataan Myungsoo membuat Ji Ahn terdiam.

Mereka berdua saling berdiam diri. Membriakan dentingan jarum jam sajalah yang terdengar didalam kamar bernuansa biru muda dan pink tersebut.

“Lee Ji Ahn dengarkan aku,” Myungsoo melepaskan dekapannya dan meletakkan kedua tangannya di pundak Ji Ahn. Memaksa gadis itu untuk menatapnya.

“Cinta sejati itu berasal dari hati. Bukan dari wajah, penampilan, fisik, ataupun yang lainnya. Jika kita mencintai seseorang hanya karena penampilan luar saja, bagaimana cara kita mencintai Tuhan yang jelas-jelas tidak kita ketahui bentuknya?”

Myungsoo berdeham pelan sebelum melanjutkan ucapannya.

“Dan cintaku kepadamu adalah cinta sejati, cinta yang berasal dari hati, bukan dari penampilan dan semacamnya. Mau seperti apa pun kau nanti saat hari pertunangan kita, aku akan tetap selalu mencintaimu, Lee Ji Ahn. Cintaku padamu tak akan goyah hanya karena berat badanmu yang naik beberapa kilo itu. Cintaku padamu itu abadi, karena cintaku padamu adalah cinta sejati.”

Lee Ji Ahn, bibir gadis itu terkatup rapat. Ia tak berani menyangkal apa yang telah diucapkan pria dihadapannya, karena itu semua memang benar adanya. Cinta sejati berasal dari dalam hati, bukan dari penampilan atau apapun.

Bagaimana bisa Ji Ahn berpikiran sepicik itu tadi? Beranggapan bahwa Myungsoo akan meninggalkannya hanya karena ia terlihat lebih gemuk dari sebelumnya. Jika hal itu benar terjadi, bagaimana nasibnya jika sudah tua nanti? Apa Myungsoo masih akan tetap setia mencintainya yang sudah tua renta?

Ji Ahn menggeleng pelan. Ia dengan segera menepis bayangan-bayangan aneh dalam otaknya. Ji Ahn yakin jika Myungsoo memang benar—benar cinta sejatinya. Ji Ahn yakin jika Myungsoo lah yang telah Tuhan persiapkan untuknya, untuk menemani hari-harinya kelak sampai akhir. Karena Kim Myungsoo, cinta sejatinya.

“Berhentilah berpikiran yang macam-macam. I still love you, no matter what, Lee Ji Ahn,” Dan pada akhirnya, Ji Ahn pun hanya bisa mengangguk dalam dekapan hangat seorang Kim Myungsoo.

THE END

Devandaaaaa~~ Ini khusus buat kamu adeeekkkk. Aku sengaja bikinin hehee.
Duh jeongmal mianhae, bener-bener ya maafkan kenistaan mbakmu yang satu ini ya. Please… Maaf banget aku udah nistain kamu sama Myungsoo disini >< Aku gatau mau bikin yang gimana lagi soalnya otak udah mentok. Huweeee mianhae kalo ini jelek banget, nggak ada feel ataupun semacamnya, dan maaf juga ini jadi nyindir-nyindir kamu ;;;;; Maaf ya maaf duhh, harap kamu bisa ngerti aku dan tetep bisa ngasih aku review tentang drabble elek yang satu ini -___-
;;;;

———————————————————————————————————————————–

Xi Lu Han and Xiaou Mei Ling’s Story

(Ficlet / PG 15)

tumblr_static_luhan-at-ceci-magazine582402_555354394492971_860526785_n

Choose One!

*          *          *

“Lu, sebenarnya siapa kekasihmu?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Mei Ling membuat Lu Han, pria yang duduk disampingnya kebingungan.

“Gadis manis yang duduk disampingku.”

“Oh ya? Aku tidak percaya.” Dalam diam, kening Lu Han mengerut mendengar ucapan Mei Ling.

“Hey, ada apa? Kekasihku tentu saja kau Mei. Ada yang salah?” Lu Han bertanya dengan nada khawatir. Karena tak biasanya Mei Ling berbicara semacam itu.

“Kau berbohong. Bukannya buku itu kekasihmu? Aku pergi,”

Setelah mengucapkan tiga kalimat itu, Mei Ling melangkahkan kakinya menjauhi Lu Han yang masih mematung dengan tangan memegang dua buah buku fiksi dengan tebal yang memang tidak tanggung-tanggung, masing-masingnya sekitar enam ratus tujuh puluh sekian halaman.

“Mei, hey tunggu. Kau….kau cemburu pada buku-bukuku?” Mei Ling tak menjawab pertanyaan Lu Han. Ia hanya diam dan menatap ke bawah, tak berani menatap Lu Han.

“Tidak. Untuk apa aku cemburu,”

“Ayolah Mei, hey tatap mataku. Aku hanya ingin bertanya padamu,” Lu Han mengangkat tangannya dan meraih pipi sang gadis agar berhadapan dengan wajahnya. Mau tak mau pandangan Mei Ling pun bertemu dengan pandangan Lu Han yang hangat itu.

“Sekarang aku ingin bertanya. Jawab dengan jujur, sayang. Apa kau cemburu pada buku-bukuku?” Pria manis itu membuka suaranya, dan mendapatkan gelengan pelan dari lawan bicaranya.

“Tidak,”

“Jujur Mei,”

“Kubilang tidak,”

“Kubilang jawab dengan jujur, sayang,”

Mei Ling memberi jeda yang cukup panjang sebelum menjawab pertanyaan yang sudah Lu Han ulang untuk keempat kalinya. Membuat keheningan menyelimuti kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Hanya deru angin serta detak jantung masing-masing yang dapat mereka rasakan.

“Malas sekali mengakui hal ini, tapi….ya aku cemburu,” Jawaban Mei Ling membuat Lu Han benar-benar tak dapat menahan tawanya. Menurutnya ini sesuatu yang begitu menggelikan. Bagaimana bisa kekasihnya cemburu hanya pada benda mati dengan tebal ratusan halaman itu.

“Ayolah sayang, apa yang harus kau cemburui darinya?”

“Perhatianmu,”

“Apa?”

“Kau terlalu sering menghabiskan waktu dengan buku-buku itu, Lu. Kau bahkan selalu mengacuhkanku jika sedang membaca buku. Aku muak akan semua ini.” Lu Han terdiam mendengar penuturan Mei Ling. Benarkah selama ini ia seperti itu?

“Mei, aku tidak bermaksu—d“

“Pilih salah satu diantara kita,” Lagi, ucapan Mei Ling lagi-lagi menginterupsi pergerakan Lu Han. Ia tak mengerti kemana arah pembicaraan gadis dengan rambut hitam pekat panjang yang lurus itu.

“Maksudmu?”

Choose one of us, bukumu atau aku?” Ini pertanyaan klise, Lu Han membatin.

“Aku akan memilihmu,”

“Buktikan,”

“Degan apa?” Tak ada jawaban dari Mei Ling. Gadis itu hanya diam dan lagi-lagi menatap ke bawah. Tak berani menatap Lu Han yang kini memandangnya intens.

“Mei?” Panggil Lu Han.

“Aku tidak tahu. Sudahlah, lupakan, Lu. Aku harus pulang,” Lu Han menahan tangan Mei Ling agar gadis itu tidak benar-benar pergi dari hadapannya. Ia merasa bersalah, walaupun hati kecilnya memberontak bahwa sebenarnya ia tak melakukan kesalahan apapun.

“Aku akan memilihmu, bukan bukuku. Tapi bisakah kau tidak bersikap seegois ini?” Mei Ling hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia enggan berbicara, karena ia tahu jika ia telah berbuat salah.

“Terserah kau saja, dan lupakan perkataanku tadi. Anggap saja aku tak pernah berkata seperti itu padamu.”

“Kenapa? Kau menyeseal, hm?”

“LU HAN! Berhenti memojokkanku!” Mei Ling yang geram dengan ucapan Lu Han pun berteriak keras. Cukup membuatnya menjadi pusat perhatian karena beberapa orang yang lewat pun menatap aneh padanya. Dan hal itu membuat Lu Han tertawa nista akan kekonyolan kekasihnya.

“Siapa yang memojokkanmu, Mei? Aku hanya bertanya, haha kau menggemaskan sekali.” Dan setelah mengucapkan dua kalimat itu Lu Han pun menarik Mei Ling kedalam dekapannya. Memeluknya dengan erat seolah tak ingin kehilangan gadisnya barang sedetik pun. Ia letakkan dagunya diatas puncak kepala Mei Ling dan menutup matanya.

“Apa yang kau lakukan, Lu? Lepaskan, aku malu.”

“Tidak akan, aku suka melakukan ini.”

“Terserah kau saja,”

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Tak ada satupun diantara Lu Han dan Mei Ling yang membuka suara. Mereka terlarut dalam keheningan dan menikmati sentuhan masing-masing.

Dui bu qi,” Suara Lu Han membuat Mei Ling mengangkat wajahnya. Menatap wajah sempurna kekasihnya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan teduh yan selalu ia sukai.

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya. Terutama untuk buku itu,”

“Sudahlah, aku yang seharusnya minta maaf. Tidak seharusnya aku berpikiran sepicik tadi.”

“Tidak juga. Kurasa kau benar, aku terlalu sering menghabiskan waktu untuk membaca akhir-akhir ini. Apa kau ingin aku melupakan buku-bukuku? Jika itu yang kau inginkan, aku akan mencoba untuk melakukannya.”

“Jangan bodoh! Kau pikir aku sejahat apa? Membaca adalah hobimu sejak kecil, aku tahu. Dan aku tak akan sejahat itu untuk memintamu melupakan buku-bukumu. Aku hanya ingin satu hal,”

“Katakan, aku akan mengabulkannya,”

“Aku hanya ingin kau menyimpan buku-bukumu jika kita sedang bersama seperti tadi. Selepasnya, itu terserah padamu.”

“Aku akan mengabulkan permintaanmu, sayang. Sekarang ayo kita pergi,” Lu Han melepaskan dekapannya kemudian memasukkan buku-bukunya kedalam tas. Ia meraih tangan Mei Ling dan mengajaknya berjalan berdampingan.

“Kita akan kemana, Lu?”

“Kau sendiri ingin kemana?”

“Terserah kau saja, aku akan ikut.”

“Aku? Kemana pun asalkan bersama gadisku yag manis ini aku akan selalu senang.” Dengan jawaban itu, Lu Han mendapat satu pukulan kecil di lengannya. Wajah Mei Ling sukses berubah menjadi semerah tomat hanya karena ucapan Lu Han yang terdengar konyol itu.

“Berhenti menggodaku rusa jelek. Baiklah, temani aku makan kali ini.”

“As your wish honey…”

Akhirnya kedua insan itu pun berjalan meninggalkan taman kampus. Hanya karena buku mereka bertengkar. Dan hanya karena hati yang tulus meminta maaf, mereka kembali berbaikan. Hal-hal klise yang biasa dialami pasangan remaja jaman sekarang.

“Mei Ling?”

“Ya?”

Wo ai ni,”

“Aku tahu itu, Lu. Aku juga mencintaimu,”

THE END

———————————————————————————————————————————–

Hola semuaaaaa~~~
Ini part 2 nya yaa...
SORRY SORRY SORRY FOR THE TYPOS!
Untuk part 3 ditunggu beberapa saat lagi okeyy.
And for Devanda Ghean Nurmalita, sekali lagi, please maafkan akuuu ;;;;;
Okeoke, review dan comment kalian aku tunggu guys!
Gamsahamnidaaaa~~

2 thoughts on “[PROJECT] Valentine Has Come! #2

  1. mbakk kamu cantik ciyusann aa :3
    i like i like/? Suka banget, aa aku kaya orang gila baca cerita yang kedua. Duh so sweet/?
    lope lope dah buat andaa❤

    • aku aamiini, alhamdulillah, wkwk~
      aaa makasih dah kalo suka, syukur banget hehe :”)
      cerita yg lainnya begimane? ah udh ngira kalo bakalan dilirik cerita kedua doang wkwk. lope you too beibehh~~❤

Say something here ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s