[PROJECT] Valentine Has Come! #1

NO BASH AND DON’T BE A SILENT READERS GUYS!

———————————————————————————————————————————–

Do Kyungsoo and Kwon Nara’s Story

(Drabble / PG 15)

largeg

Heart For Rabbit Maniac

*          *          *

“Kau suka kelinci?” Tanya Kyungsoo. Gadis dihadapannya mengangguk pelan.

“Dari kecil aku memang gemar memelihara kelinci. Dulu, di rumah haraboji aku beternak banyak sekali kelinci. Namun sejak menginjak SMP, aku terpaksa harus menjual kelinci-kelinciku.” Jelas Nara, gadis yang sedang berdiri bersama Kyungsoo.

“Kenapa harus kau jual?”

“Nilai-nilaiku turun karena aku terlalu sibuk dengan kelinciku. Kau ingat kan wabah penyakit yang menyerang hewan peliharaan dulu itu? Lebih dari separuh kelinciku terserang penyakit. Aku bahkan sampai nekat membolos karena sibuk merawat kelinci-kelinciku.” Nara tertawa saat bercerita tentang masa kecilnya.

“Kwon Nara si maniak kelinci. Benar-benar sorang maniak yang menarik.” Respon Kyungsoo terkekeh. Nara juga ikut tertawa mendengar ucapan Kyungsoo yang cukup hangat didengar itu.

“Kau sendiri, apa kau menyukai kelinci? Atau sejenis hewan peliharaan lainnya?” Tanya Nara pada Kyungsoo yang sedari tadi hanya diam dan mengusap rambut halus kucing anggora putih di pangkuannya.

Naega? Aku memelihara beberapa ikan dan kura-kura di rumah.” Mata Nara berbinar mendengar jawaban dari Kyungsoo.

“Hewan air? Daebakk! Aku juga suka ikan. Dan kau, ah jarang sekali ada namja yang mau memelihara hewan laut. Kebanyakan dari mereka pasti memelihara anjing.”

“Ya begitulah. Aku berbeda dengan mereka, karena aku adalah aku, bukan mereka.” Kyungsoo menerima pukulan kecil kecil di lengannya setelah mengucapkan kalimat itu.

“Kau sok bijaksana sekali.”

“Haha, sudah kubilang inilah aku yang apa adanya. Ini gaya hidupku, tanpa harus menyama-nyamakan diri dengan siapapun.” Nara dibuat tersenyum dengan penuturan Kyungsoo.

“Baiklah baik, Do Kyungsoo memang temanku yang paling hebat dan bijaksana.” Puji Nara. Mata besar Kyungsoo menyipit dan tenggelam oleh senyuman khasnya.

“Nara-ya,” Pangil Kyungsoo. Nara yang tengah sibuk dengan beberapa ekor hamster melirik sekilas.

“Ya?”

“Eum, jikau aku menitipkan kelinciku di tempatmu, apa kau akan merawatnya? Adikku alergi bulu, aku tak dapat memelihara hewan lucu ini dirumah.” Ucap Kyungsoo.

“Jangan bercanda Kyungsoo-ya,”

“Aku tidak bercanda, aku sedang serius kali ini. Jawab aku, ppali. Jika aku menitipkan kelinciku apa kau akan merawatnya? Kau bisa menganggapnya milikmu sendiri juga.” Kyungsoo pun mengulang pertanyaannya karena sedari tadi Nara hanya diam. Akhirnya gadis itu pun beranjak dan menghadap Kyungsoo.

Arasseo, dengan senang hati aku akan merawatnya. Kau tenang saja,” Kyungsoo tersenyum mendengar jawaban Nara. Jawaban yang memang benar-benar dinantinya.

Lelaki itu melangkah mendekati gadis dihadapannya dengan langkah pelan tapi pasti. Nara yang mengerti ada yang berbeda dari Kyungsoo hanya dapat melangkah mundur. Sampai akhirnya punggung gadis itu menyentuh dinginnya tembok pembatas, Kyungsoo tersenyum senang. Ia senang karena Nara sudah tak bisa bergerak kemana-mana lagi.

“Kyung—Kyungsoo-ya,” Suara Nara sedikit bergetar saat memanggil nama Kyungsoo.

“Hm?”

“Mundurlah, aku ingin membayar ini semua kemudian pulang. Ini sudah hampir malam.”

“Sebentar lagi, aku masih ingin bertanya padamu.”

“Ada apa?”

“Kau….benar-benar tidak keberatan jika aku menitipkan kelinciku di rumahmu?”

Kyungsoo kembali memperkecil jarak diantara mereka hingga kedua ujung sepatu mereka saling bertemu. Membuat Nara menahan napasnya dengan gusar karena hanya tinggal sedikit lagi, jika ia masih bergerak tidak jelas seperti ini, wajah mereka akan benar-benar bersentuhan.

“Iya, ada apa lagi memangnya?” Nara mencoba meredam kegugupannya dengan berbicara cukup cepat.

“Eum, jika kelinci saja boleh kutitipkan di rumahmu. Bolehkah aku juga menitipkan hatiku padamu?”

Kyungsoo berbisik pelan di telinga kanan Nara. Membuat gadis dengan sweater coklat itu membelalakkan matanya. Kaget akan ucapan Do Kyungsoo, seorang teman yang selama ini disukainya diam-diam.

“Apa katamu?”

Do you love me?”

“Mwo—mwoya?”

“Nae kkeoha ja? Saranghae, Kwon Nara,

THE END

———————————————————————————————————————————–

Park Chanyeol and Song Yejin’s Story

(Drabble / PG 15)

tumblr_melmczKBUO1qe9odoo2_250

Guess It!

*          *          *

“Song Yejin, aku ingin bermain denganmu.” Ucap Chanyeol dengan senyum khasnya yang derp namun cukup menawan itu.

“Bermain apa?” Yejin yang sedang membaca komik pun melepaskan kacamata dan meletakkan komiknya diatas meja.

“Kita bermain tebak-tebakan saja,” Usul Chanyeol. Yejin yang mendengarnya pun mengangguk.

“Ayo, siapa takut.”

“Tapi kali ini berbeda. Aku menyebutnya tebakan cinta.” Yejin mengangkat alisnya setinggi mungkin mendengar penuturan Chanyeol.

“Apa itu? Aneh sekali,”

“Aigoo ayolah, kau pasti akan menyukainya. Ini permainan yang sangat mengasyikkan.” Chanyeol kembali meyakinkan Yejin. Dan Yejin, gadis itu pun mengangguk mengiyakan.

“Cih, percaya diri sekali kau. Baiklah, kau yang mulai,”

“Satu ditambah satu, berapa?” Pertanyaan Chanyeol membuat Yejin kembali terkikik geli.

“Astaga, itu pertanyaan bodoh. Tentu saja dua.”

“Kau tahu Song Yejin, itu artinya kedua mataku tak akan pernah berpaling untuk menatap paras indahmu.” Rayuan Chanyeol sukses membuat pipi Yejin bersemu merah. Ia memukul pundak lelaki itu menggunakan komiknya.

“Astaga, apa-apaan itu. Ini mengelikan Chanyeol-ah.” Yejin mencoba mengalihkan padangannya dari Chanyeol karena pipinya yang masih bersemu merah.

“Hahaha, sudah kubilang bukan jika permainan kali ini mengasyikkan. Sekarang giliranmu bagaimana?”

“Eum, baiklah. Aku akan mencoba bermain dengan permainan bodoh ini. Tiga ditambah empat hasilnya tujuh. Kau pasti tahu kan? Kau kan pandai berhitung.”

“Aaaa arasseo, aku mengerti maksudmu Song Yejin. Tiga ditambah empat sama dengan tujuh. Itu artinya selama tujuh hari dalam seminggu pula kau selalu merindukanku. Iya, kan? Hahahaha,” Chanyeol tertawa nista saat mengucapkannya. Membuat gadis dihadapannya itu menggembungkan pipinya karena tebakan Chanyeol memang benar adanya.

“Tunggu, aku punya satu lagi pertanyaan untukmu.” Yejin kembali bersuara membuat Chanyeol menghentikan tawanya dan menoleh kearah gadis berkaus hijau tosca itu.

Ppali malhaebwa,”

“Duabelas dikali dua, berapa hasilnya?”

“Duapuluh empat pastinya.”

“Jika kutambah jam dibelakangnya, bagaimana? Duabelas jam dikali dua, dan hasilnya akan menjadi?”

“Duapuluh empat jam.”

“Dan selama itulah aku selalu mencintaimu, Park Chanyeol.” Chanyeol tak bisa untuk tidak tersenyum mendengar perkataan Yejin. Dia tersenyum hangat dan mengacak poni gadisnya.

“Uhh itu so sweet. Aku tahu jika kau memang mencintaiku Yejin-ah, aku tahu.” Sepasang sejoli itu tergelak bersama.

“Terakhir, aku punya yang spesial untukmu.” Tatapan Chanyeol berubah serius. Namun kesan hangat dan periangnya tak akan pernah bisa hilang dari tatapan itu.

“Oh, ayo katakan,”

“Dua dikali dua, sama dengan?”

“Empat. Tapi Chanyeol-ah, aku tidak mengerti apa maksud pertanyaan ini.  Empat?” Pria itu kembali tersenyum melihat Yejin yang tengah kebingungan menerka maksud dari pertanyaan yang baru saja dijawabnya.

“Kau ingin tahu?” Chanyeol dengan sengaja mengulur-ulur waktu sebelum memberikan jawabannya. Dan Yejin sangat hapal itu.

“Tentu saja, cepat katakan. Tidak perlu berbelit-belit seperti ini.” Chanyeol kembali tersenyum. Ia memajukan badan serta wajahnyanya hingga tepat berhadapan dengan paras anggun Yejin.

“Empat dalam bahasa inggris disebut four. Four yang kumaksudkan adalah forever. Dan forever, ya, selama itulah aku akan selalu mencintaimu, Song Yejin.”

THE END

———————————————————————————————————————————–

Byun Baekhyun and Ahn Sera’s Story

(Drabble / PG 15)

1654005_809259219087511_826731686_n

Lullaby

*          *          *

“Aku bingung padamu, Baekhyun.” Ucap Ahn Sera pelan. Baekhyun, namja yang tengah membaca buku disebelahnya pun menoleh.

“Kau bingung karena kau bisa menikah dengan pria setampanku? Sudahlah tak perlu dipikirkan, aku mencintaimu Sera-ya.” Baekhyun dengan rasa percaya diri tingkat dewa berkata demikian. Membuat istrinya—Ahn Sera— ingin muntah saat itu juga.

“Kau salah. Seharusnya aku bertanya seperti ini, kenapa aku harus menikah dengan pria dengan tingkat kepercayaan diri yang overload sepertimu, huh?!” Baekhyun hanya terkekeh mendengarnya. Ia memang seorang pria yang percaya diri. Dan ia rasa, kepercayaan dirinya masih belum overload seperti apa yang istrinya katakan.

“Ah, kau seharusnya mensyukuri semua itu.” Tanpa aba-aba, Baekhyun melompat pelan hingga berbaring di sebelah Sera. Membuat wanita itu terlonjak karena kaget.

“BODOH! Kau mengagetkanku!” Sera membentak Baekhyun keras. Namun apa yang ia dapatkan? Yang ia dapatkan hanyalan senyum inosen Byun Baekhyun. Pria yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam di Seoul National Hospital, yang telah menikahinya sejak empat bulan lalu.

“Hm? Ayo tidur aku mengantuk.” Dengan gamblangnya Baekhyun melingkarkan lengannya yang kurus itu di pinggang Sera. Membuat wanita itu kembali terlonjak kaget.

“Lepaskan tanganmu, Byunbaek. Aku masih belum mengantuk.”

“Tapi aku sudah mengantuk, sayang.”

“Kau tidur saja. Aku masih tidak ingin tidur.”

“Oh ayolah, ini sudah hampir pukul satu pagi dan kau bilang masih tidak mengantuk? It’s a biggest lie honey.” Baekhyun menarik lengannya kemudian bangkit dan bersandar pada senderan kasur. Ia menatap istrinya dengan tatapan meremehkan.

“Kau tidak sepeka yang kukira, Baekhyun-ah. Insomniaku kambuh dan kau masih bisa menuduhku berbohong padamu? Haa jinjja, kau benar-benar menyebalkan.” Sera menggerutu pelan. Membuat Baekhyun terkekeh dibuatnya.

“Ayolah, ini sudah saatnya untuk tidur.”

“Tapi aku masih belum bisa tidur, Byunbaek.”

Baekhyun tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya tepat dihadapan Sera kemudian memberikan kode agar wanita itu juga menyerahkan tangannya. Dan Sera mengerti, ia juga mengulurkan tangannya dan disambut oleh genggaman hangat Baekhyun. Namun wanita itu masih tak mengerti apa yang sebenarnya tengah diinginkan sang suami.

Tiba-tiba saja Baekhyun memeluk Sera dengan erat. Dilingkarkan lengannya disekitar leher sang istri. Membuat Sera semakin tak mengerti apa yang Baekhyun inginkan saat ini. Yang wanita itu rasakan kali ini hanyalah hangat, serta begitu damai berada dalam pelukan sang suami.

“Baekhyun-ah, apa yang kau lakukan?” Sera membuka suaranya.

“Kau bilang tak bisa tidur bukan? Aku akan menidurkanmu, kau memang benar-benar tak lebih dari seorang balita dihadapanku.” Baekhyun terkekeh kecil, membuat wanita dalam dekapannya itu mengerucutkan bibirnya sebal.

“Aku sudah duapuluh tiga tahun, Byunbaek. Aku bukan balita.”

“Tapi sikapmu masih tak lebih dari balita berusia tiga tahun, sayang.”

“Terserah apa katamu.” Baekhyun hanya tertawa nista melihatnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mengusap punggung istrinya.

“Pejamkan matamu, aku akan menyanyikan lullaby untukmu.” Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Sera. Wanita itu hanya mengangguk menuruti keinginan Baekhyun.

Sleep tight my baby, I’ll hold you, feel my arms, so.
Sleep tight, dream of me, a sweet dream with only you and me.
Close your eyes and comfortably come into my arms.
I just wanna make you feel my heart I’m ready.
Sleep tight my love, yeah…”

Baekhyun terus menyanyikan Lullaby untuk Sera. Hingga tak terasa, hampir dari setengah lagu telah ia nyanyikan saat itu.

“Sleep tight, I will softly whisper.
My heart, and kiss you.
A lullaby only for you…
Listen to this lullaby I’m singing
As you sleep, just feel it…”

Baekhyun melirik kebawah. Dan saat itulah ia tersenyum sendiri. Istrinya telah tertidur pulas dalam dekapannya. Wajahnya polos sekali, dan memang benar kata Baekhyun, ia tak ada bedanya dengan balita berusia tiga tahun jika tengah terlelap seperti ini.

Dengan sangat perlahan, Baekhyun melepaskan pelukannya dan menidurkan Sera di kasur, setelah sebelumnya mematikan lampu dan menggantinya menggunakan lampu tidur. Ia kemudian memasangkan selimut hingga diatas dada Sera. Wanita itu memang tak bisa tidur dalam kedinginan.

Dalam diam, Baekhyun menelisik wajah Sera yang tengah pulas tertidur. Disentuhnya pipi tirus Sera kemudian mengusapnya perlahan. Ia terlalu senang melihat Sera yang tidur seperti ini, terlihat sangat menggemaskan. Tak lama kemudian Baekhyun pun mengangkat tangannya dari wajah Sera kemudian melingkarkannya di pinggang wanita itu. Ia mendekat kemudian menicum kening Sera, hangat dan lama.

“Jaljayo, nae sarang,”

THE END

———————————————————————————————————————————–

Oh Sehun and Park Yessa’s Story

(Drabble / PG 15)

large_sehun

Coffee Milk

*          *          *

“Oppa, berhenti menatapku seperti itu. Aku tidak suka.” Keluh Yessa. Namun Sehun hanya diam, ia masih saja menatap Yessa dengan tatapan elang miliknya.

Wajar saja bukan jika Yessa mengeluh? Sedari tadi kekasihnya yang seperti tembok itu hanya diam dan sesekali menyesap kopi susu pesanannya. Jika hanya diam mungkin Yessa sudah terbiasa, tapi ini, selain diam namja itu juga terus menatap tajam kearah Yessa. Tatapan seolah-olah sedang mengintimidasi yeoja itu.

“Oppa! Ahh, kau merusak moodku,” Mendengar keluhan Yessa yang entah untuk kesekian kalinya, Sehun menegakkan tubuhnya dan mengacak rambut cokelatnya dengan gaya cool. Tak sampai semenit, ia kembali menatap Yessa.

“Terserah apa katamu, Oh Sehun,” Yessa pun menyerah. Ia memutar bola matanya kesal dan menatap ke segala arah. Sebisa mungkin untuk tidak menatap kedepan. Karena jika ia menghadap kedepan, ia akan bertemu dengan mata elang Sehun. Sehun yang sadar jika Yessa tengah mencoba mengalihkan tatapan darinya hanya tersenyum setan. Smirk yang cukup membuat seorang Park Yessa, yang notabanenya adalah kekasihnya sendiri risih dan takut.

“Sampai kapan kau akan melihat jalan?” Sehun membuka suaranya. Yessa yang mendengar itu hanya mendengus.

“Sampai kau mengalihkan pandangan menusukmu itu dariku.” Sehun tertawa nista mendengarnya.

“Aku suka menatapmu,”

“Tapi aku tidak suka,”

“Apa kau memiliki hak untuk melarangku, sayang?”

“Menjijikkan. Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak pernah menyukainya.”

“Lalu aku harus memanggilmu apa? Honey? Chagi? Dear? Baby? Atau apa, hm? Pilih saja.”

“Menjijikkan kubilang! Aku tidak pernah suka dipanggil seperti itu olehmu.”

“Lalu apa maumu?”

“Cukup panggil aku dengan namaku. Yessa, Park Yessa.”

“Bukannya aku kekasihmu? Aku tentu bisa saja memanggilmu dengan apapun yang kuinginkan.”

“Tapi kau bukan su—hah lupakan! Kau benar-benar merusak moodku, Oppa.” Yessa lagi-lagi mengeluh. Dan Sehun? Tentu saja namja sialan itu tengah tersenyum menang mengingat kesalahan yang hampir saja Yessa ucapkan tadi.

“Su apa? Suamimu, eoh?”

“Diam!”

“Tenang saja, aku sudah berjanji akan menikahimu nanti.”

“Oppa, kubilang diam!”

“Aku tidak akan diam, Oh Yessa…”

Yessa meminum kopinya dalam sekali tegukan dan menatap Sehun sebal.

“Kau begitu menjijikkan, Opp—a,“

Ucapan Yessa terputus ketika Sehun menempelkan bibirnya diatas bibir plum milik Yessa. Melumatnya pelan dan kembali mengecupnya. Yeoja itu terkejut bukan main atas perlakuan namja dihadapannya. Bisa-bisanya namja sialan ini mengambil kesempatan dalam kesempitan!

Selang beberapa waktu, Sehun menjauhkan wajahnya dari wajah Yessa. Tidak begitu jauh, hanya sekitar 5 senti mungkin. Ia tersenyum miring dan mengerling nakal kearah gadisnya.

“Bisakah kau melakukan sesuatu yang bahkan kecil pun dengan benar, sayang? Bahkan minum dengan benar pun kau tidak bisa. Lain kali, pastikan melakukan semuanya dengan benar agar aku tidak mengulang apa yang telah kulakukan tadi.”

THE END

———————————————————————————————————————————–

Halooo~
Itu dia part 1 untuk project aku. SORRY FOR THE TYPOS!
Gimana rek? Garing ya?
Duh aku nggak ngerti kenapa masih aja nekat ngelanjutin kalo tau ini bener-bener garing.
Ini aku udah telat ngepost sebenernya hehe.
Devanda dan Sinta, maaf ya bebsseu sayangss~~
Gimanapun ceritanya, I need your comments guys!
Thank youuuuu~

#NB : untuk part 2 nya tunggu beberapa jam lagi aku post yaa!

4 thoughts on “[PROJECT] Valentine Has Come! #1

  1. Ping-balik: [PROJECT] Valentine Has Come! #3 | Vampire Diary

  2. Ping-balik: [PROJECT] Valentine Has Come! #2 | Vampire Diary

Say something here ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s